BisnisHead LineKomunitasSuspensi

VIRUS SPEED, MEMBUAT BISNIS BUMDes SALEM PURWAKARTA SEMPOYONGAN

LOGIKA MATEMATIKA DAN BISNIS ITU BERBEDA

Oleh : Guntoro Soewarno, Konsultan BUMDes, Owner PT Raja Sengon Indonesia.

GUNTORO SOEWARNO

BADAN Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Salem Kecamatan Pondoksalam Purwakarta lagi menghadapi problem serius. BUMDes ini dalam bisnis lagi terkena virus ‘speed.’ Terlalu cepat bisnisnya ingin segera besar dan wah. Mereka tidak sadar bahwa speed dalam bisnis adalah pembunuh berdarah dingin.

Pertama kali mendengar bahwa BUMDes Salem membangun bisnis budidaya jangrik langsung 45 kandang, yang terpikir oleh saya adalah kekhwatiran. “Itu pasti kena speed. Siapa yang gagal menangani virus ingin segera bisnisnya besar ini, soal bangkrut tinggal nunggu waktu saja,” gumam saya waktu itu.

Saya pun asli ingin segera menengok BUMDes itu. Tapi karena soal kesibukan belum juga terlaksana. Khawatir terlambat.

Pengurus BUMDes desa Ciawi yang saya minta untuk melihat BUMDes Salem, kesimpulannya baik-baik saja. Saya pun ikut bersyukur. Meski hati saya tidak percaya.

Beberapa hari lalu, saya mampir ke kang Husni Thamrin, Ketua BUMDes Desa Pondok Bungur. Usai melakukan coaching business di BUMDes Ciawi, melalui jalan alternatif, saya mampir ke rumah Husni.

Dari situ saya baru tahu bahwa BUMDes Salem dengan budidaya jangkriknya lagi banyak masalah. Saya memutuskan untuk melihat ke BUMDes Salem, langsung lihat kandang jangkriknya yang sangat mewah.

Bertemu dengan salah satu pengelolanya, cerita yang ada serba nestapa. Kasihan. Dugaan saya sejak tiga bulan yang lalu terbukti.

Problem non teknis bermunculan. Dari soal pakan sampai berat jangkrik yang ringan. “Produktivitasnya juga rendah. Dari telor 0,4 Kg hanya jadi 10 Kg saat panen. Padahal mestinya minimal 20 Kg.

Belum soal harta jual yang hanya Rp 25 rb per Kg, padahal harga di pasar Purwakarta Rp 35 ribu per Kg.

BISNIS BUDIDAYA JANGKRIK BUMDes SALEM

Pengelola mengaku punya pengalaman mengelola 10 kotak kandang Jangkrik. “Dulu waktu saya kelola 10 kandang, produktivitas bisa tembus 40 Kg per kandang. Ini kenapa ya,” tanyanya.

Kini, tiap hari yang dihadapi mereka adalah pusing. “Ini bisnis sudah menguras kantong pribadi pak,” tuturnya sambil memelas.

VIRUS SPEED

Saya bisa memaklumi kebingungan mereka. Ini bukti nyata kalah bisnis dikelola tanpa ilmu. Mereka tidak sadar bahwa speed, atau nafsu ingin bisnis segera besar adalah sangat berbahaya. Speed adalah pembunuh berdarah dingin. Tanpa penanganan yang bagus, maka soal bangkrut tinggal menunggu waktu saja.

Banyak pebisnis tidak paham bahwa hitungan matematika dengan hitungan bisnis itu tidak sama. Kalau di Matematika 1X1= 1, dan ketika 1X10 menjadi 10. Tapi dalam bisnis rumus itu tidak berlaku. Kalau satu unit kandang bisa menghasilkan 1 juta, maka ketika kandang itu dibesarkan menjadi 50 kandang, tidak serta merta menjadi 50 juta, tapi bisa cuma 10 juta, bahkan bisa nol rupiah. Itulah bisnis.

Ketika kita kena speed, dari semula 10 kandang sukses terus dilipatkan menjadi 45 kandang itu gejala speed. Kalau tidak menyadari sejak awal, maka problem teknis dan non teknis bakal muncul bertubi-tubi.

Memelihara 10 kandang tentu energi, waktu dan problem akan sangat berbeda dengan memelihara 45 kandang jangkrik. Problem itu akan muncul karena saat masih 10 kandang, sebenarnya bisnisnya saat itu belum stabil.

Dalam posisi seperti itu, langsung ingin cepat besar. Cepat untung berlipat. Menjadi wah. Jadi pembicaraan banyak orang, kepala dinas dan Bupati. Mereka lupa bahwa bisnis akan tumbuh bagus kalau selalu berangkat dari yang kecil, stabil, tumbuh, skill tingkat dewa dan tetap cermat saat memutuskan untuk ekspansi.

Bagi BUMdes Salem, nasi sudah jadi bubur. Yang perlu dilakukan adalah mundur beberapa langkah untuk menata ulang agar rapi. Fokuslah kembali ke 10 kandang. Kelola dengan serius. Stabilkan. Pelajari problem-problem non teknis. Turunkan biaya operasional seefisien mungkin. Cari pasar-pasar yang sehat dan harga tinggi. Ini agar bisa untung optimal.

Laiknya sebuah ketapel, semakin anda mundur ke belakang sampai jauh, kelak anda akan melesat dengan kecepatan tinggi. Tapi kalau dalam posisi sakit-sakitan seperti ini anda lebih mengedepankan nama baik, biar dinilai orang anda sukses, maka soal bangkrut tinggal soal waktu saja.

Segeralah berbenah. Sebagai catatan akhir, jatuh bangun dalam bisnis itu biasa. Bangunlah bisnis dengan ilmu dan selalu penuh dengan optimistis. (PU).

 

 

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *