Head LinePemdaPolitik

SIKAP SATGAS YANG MENUTUP-NUTUPI KEMATIAN WARGA CIWARENG YANG BERSTATUS PDP CORONA, DINILAI MEMBAHAYAKAN WARGA LAIN

FRAKSI PKS MINTA SATGAS COVID-19 TERBUKA KE PUBLIK

PURWAKARTA (eNPe.com) – Sikap Satgas Covid-19 Kabupaten Purwakarta yang menutup-nutupi kematian pasien dengan status PDP, dinilai membahayakan warga lain. Satu warga mengaku geram dengan sikap itu, jika ada warganya yang kena, ia akan menuntut Satgas dan RS Bayu Asih akibat mereka tidak transparan.

Agus Wahyu Jatmiko, warga Ciwareng menyatakan hal itu kepada eNPe.com kemarin sore (30/2/20). “Sikap mereka yang tidak membuka secara transparan kasus ini sangat membahayakan warga. Saya warga Ciwareng, kalau sampai keluarga saya yang kena virus Corona mereka akan saya tuntut,” jelasnya.

“Kalau Satgas Covid-19 transparan apa adanya, kasus kematian warga Ciwareng tidak memicu keresahan warga. Makanya Satgas mesti transparan.” (Ketua Fraksi PKS DPRD Purwakarta Dedi Juhari).

Menurut Agus, Satgas tidak bisa main-main dalam soal ini. “Mereka berasumsi kasus ini tidak benar. Kalau ternyata kasus ini benar Corona dan menulari warga, siapa yang harus bertanggung jawab,” jelasnya dengan nada tinggi.

Satu pasien dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP), semalam masuk ke ruang isolasi RS Bayu Asih. Menurut Direktur Utama RS Bayu Asih Agung Darwis Nataatmadja, satu jam setelah diobservasi si pasien langsung meninggal, sekitar pukul 05.00 pagi.

“Kita belum bisa memastikan apakah pasien itu positif Corona atau tidak. Karena si Pasien keburu meninggal,” jelas Agung.

Meski begitu, menurut Agung, cara memakamkannya digunakan protokol yang standard. “Kita pakai Alat Pengaman Diri (APD) biar aman,” jelasnya.

Sementara itu, tetangga korban yang meninggal menceritakan bahwa korban masuk rumah sakit pukul 23.00 malam. Dan meninggal pukul 04.30.

“Waktu itu keluarganya bertanya, apakah bisa segera dipastikan pasien kena Corona atau tidak. Dokter menyatakan perlu tiga hari untuk memastikan pasien kena Corona atau tidak. Eh … pagi-pagi keluarganya ditelpon dokter kalau pasien meninggal dan semua akan diurus oleh rumah sakit,” jelasnya.

Kini, sejauh penelisikan eNPe.com, cerita soal ini beredar luas di media sosial.

Satu Dokter di RS Bayu Asih menuturkan, pasien itu datang dalam keadaan parah. “Ya batuk, demam. Kemudian oleh tim dokter sempat dikonsultasikan ke Satgas Covid-19. Akhirnya masuk ruang isolasi dengan status PDP,” jelasnya.

Cuma, masih menurut dokter itu, belum sempat diteliti secara seksama, pasien itu keburu meninggal. “Karena khawatir maka saat pemakaman menggunakan protokol standard,” jelasnya.

Katika media ini mencoba konfirmasi ke Satgas Covid-19, terkait status pasien yang meninggal apa sempat dibahas di Satgas dan diputuskan dengan status PDP, semua Satgas lebih memilih bungkan.

Ketua Satgas Covid-19 Iyus Permana menolak menjawab. Pertanyaan yang dikirim melalui saluran whatsapp hanya dibaca saja. Sementara ketika ditelpon juga menolak untuk menjelaskan.

Anggota Satgas Covid-19 Dr Erlita Sari juga mengambil sikap yang sama dengan Iyus Permana. Pertanyaan yang dikirim melalui whatsapp hanya dijawab,”Silahkan ke humas Dinkes saja.” Saat ditelpon juga Erlita enggan menjawab.

Sekretaris Dinkes Rudi Hartono juga mengikuti jejak Iyus Permana. Pertanyaan yang dikirim melalui whatsapp dan telpon juga tidak direspon. Rudi lebih memilih diam, ketimbang menjelaskan apa adanya.

PKS MINTA SATGAS CORONA TRANSPARAN APA ADANYA

Sementara itu Ketua Fraksi PKS Dedi Juhari meminta agar Satgas Covid-19 transparan kepada publik apa adanya.

“Mereka mesti transparan soal kematian warga Ciwareng ini. Ini jadi persoalan. Publik jadi bertanya-tanya benar apa tidak,” jelas Dedi.

Padahal, menurutnya, kalau dijelaskan apa adanya, warga bisa waspada secara mandiri. “Kalau ditutup-tutupi, ya malah memicu keresahan warga,” jelasnya,

Untuk itu, Dedi berharap Satgas bisa menjelaskan apa adanya.”Semakin transparan semakin bagus,” jelasnya. (ril/KDR).

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close