Head LineKomunitasOpini

SELAMAT JALAN AGUS LENON, TERIMA KASIH BUKU-BUKUNYA

Oleh : A.S. Laksana, Sosiolog

SAYA baru tahu namanya Agus Edy Santoso ketika ia pergi jauh dan kami tidak mungkin bertemu lagi, membicarakan buku-buku apa saja yang perlu diterbitkan, atau sekadar berpapasan di jalan. Agus Lenon meninggal. Saya menerima kabar itu pada Jumat malam, 10 Januari 2020, di perempatan lampu merah Fatmawati. Kabar meninggalnya Lenon membuat saya menghadapkan wajah, dengan gerak otomatis, ke arah Rumah Sakit Fatmawati di seberang jalan: Di rumah sakit ini enam belas tahun lalu Nuku Soleiman pernah dirawat, sebelum kemudian dipindahkan ke RS Harapan Bunda, Pasar Rebo, Jakarta Timur, dan meninggal setelah dua hari dirawat.

Saya merasa dekat dengan Nuku karena kawan-kawan saya dari Universitas Nasional, tempat Nuku kuliah, sering membicarakannya—lelaki tinggi tegap dengan leluhur dari Tidore, yang harus mendekam lima tahun di sel penjara (1993-1998) karena tuduhan menghina presiden; ketika ia tertangkap, di tasnya ada stiker SDSB (Soeharto Dalang Segala Bencana). Setiap kali mendengar teman-teman membicarakan Nuku dan apa saja yang pernah ia lakukan sebagai aktivis, di dalam benak saya muncul sosok yang tegak menjulang dan tidak memiliki rasa takut.

Pada 2003 saya datang ke rumahnya; itu kali pertama saya bertemu dengannya. Nuku sesuai dengan gambaran yang ada di benak saya: Ia bertubuh tinggi, tampak kokoh, tetapi tidak lagi berdiri tegak; ia tidur, sangat nyenyak, tenteram, berselimut putih, dan ada kapas putih menyumbat hidungnya.

Ingatan tentang Nuku segera membawa saya kepada sosok lain, seorang lelaki beberapa tahun di atas saya, bernama Amir Husin Daulay—nama yang terdengar keramat bagi telinga saya. Pada 1980-an, ketika gerakan mahasiswa menguat di Jokja, Bandung, dan Jakarta untuk menentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK), kebijakan Mendikbud Daoed Joesoef yang oleh para aktivis kampus dianggap sebagai alat politik rezim Soeharto untuk menjadikan mahasiswa sejinak dan selucu terwelu, dan para pentolan aktivis sibuk meluaskan jaringan mereka, saya mulai mendengar nama-nama legenda jalanan, dua di antaranya adalah Amir Husin Daulay dan Nuku Soleiman. Saya selalu membayangkan mereka adalah dua saudara kembar dari Jakarta.

Sosok Amir dan reputasinya sebagai aktivis membuat saya betul-betul kecil, secara harfiah; saya melihatnya pertama kali ketika ia datang ke Jokja pada akhir 1980-an: Ia bertubuh amat besar, dengan cambang dan janggut lebat, dan saya hanya melihatnya dari jarak tertentu di antara kerumunan. Kami baru bercakap-cakap pada 1998, ketika Soeharto sudah dipaksa lengser, dan suaranya membuat saya cepat merasa akrab. Saya merasa ia kawan lama saat ia menyapa saya dan mengajak bercakap-cakap di sebuah warung di daerah Lebak Bulus. Sikapnya hangat dan suaranya terdengar lembut.

Kami masih bercakap-cakap beberapa kali lagi setelah itu, jika ia datang ke Tabloid DeTAK di kompleks stadion Lebak Bulus untuk menemui sahabat dekatnya M. Thoriq atau jika kami bertemu di jalan. Dan suatu hari kami bertemu di jalan. Ia berjalan kaki di Jalan Raya Ciputat, saya meminta sopir taksi berhenti tepat di depannya, dan dari jok belakang saya menurunkan kaca jendela, melongokkan kepala, dan menawarinya bareng.

“Cuma dekat, Lak, saya jalan kaki saja, sambil olahraga,” katanya.

Ia senang berjalan kaki, tetapi saya menyesal kenapa waktu itu tidak memaksanya naik, sehingga kami bisa bercakap-cakap sedikit lebih panjang. Perjumpaan di jalan dan tawaran yang ia tolak itu adalah perjumpaan dan percakapan terakhir saya dengan Amir Daulay. Ia pergi ke tempat jauh pada 6 Juli 2013.

Aliran ingatan tentang teman-teman yang sudah tidak ada itu berhenti ketika saya tiba di rumah Hamid Basyaib. Kami berjanji bertemu malam itu, bersama Katamsi Ginano dan Yusi Avianto, mereka sudah datang dua jam sebelum saya tiba. Hamid memisahkan diri, menulis dengan ponselnya di kursi depan televisi yang tidak dihidupkan. Ia menoleh ketika saya tiba.

“Agus Lenon, Bung,” katanya.

Saya tahu sebentar lagi pasti muncul obituari tentang Agus Lenon. Hamid sanggup menulis cepat dan ia tahu bagaimana mengenang dan menyampaikan rasa hormat dalam cara yang patut kepada orang yang ia antar kepergiannya dengan tulisan.

Saya bergabung dengan Katamsi dan Yusi di meja samping kolam, dan kami bercakap-cakap dalam pembicaraan yang tersendat dan sering diinterupsi oleh kemurungan.

Agus Lenon adalah tamu pertama yang datang ke kantor akubaca di Jalan Guru Alip, Duren Tiga, ketika saya mendirikan penerbitan itu awal 2000-an. Ia datang, dengan kacamata bulat yang membuatnya mendapatkan nama ‘Lenon’, dengan postur kokoh, dengan tas menggembung di bahunya, dan ia segera membongkar isi tasnya begitu duduk di kursi ruang tamu. Ia menunjukkan buku “Madilog” Tan Malaka dan buku-buku kiri lainnya terbitan Teplok Press, nama penerbitan yang ia dirikan, dan menyampaikan, dengan suara hangat dan nada sungguh-sungguh: Akubaca juga perlu menerbitkan buku-buku semacam ini, Bung.

Itu kunjungan yang tak pernah saya lupakan. Kami tidak saling kenal. Saya hanya tahu nama besarnya sebagai aktivis; ia suka blusukan sampai jauh, sebelum kata blusukan menjadi populer sebagai kampanye politik, dan ia pasti tidak mengenal nama saya, dan saya memendam rasa iri jika ada teman yang menceritakan pengalamannya bersama Agus Lenon.

Hari itu saya tahu kenapa teman-teman aktivis seumuran saya, atau di bawah saya, selalu terdengar bangga saat menceritakan pengalaman mereka berjumpa atau didatangi Agus Lenon. Pak John Lennon tahu cara menjadikan dirinya sahabat bagi orang-orang yang didatanginya. Ia sama hangatnya dengan Amir Daulay ketika pertama kali menyapa saya, dan sikap sungguh-sungguh yang ia tunjukkan ketika kami bercakap-cakap membuat saya merasa dianggap penting pada pertemuan pertama.

Ia meninggalkan buku-bukunya di meja saat berpamitan, dan menolak ketika saya hendak membayarnya. Itu untukmu saja, katanya.

Saya memandangi fotonya yang diunggah Thoriq di Facebook. Tubuhnya tampak ringkih, tetapi matanya masih tajam, dan saya berpikir itu mata orang yang bahagia.

Terima kasih, Kamerad John Lennon. Saya harus meminta maaf bahwa buku-buku itu sudah tidak ada lagi pada saya, saya tidak cakap menyimpan pemberianmu. Namun, saya sudah membaca semuanya; saya berharap ini membuatmu tenang. (PU).

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *