Head LineOlahragaPemda

SELAMA EMPAT TAHUN, KLUB SEPAK BOLA ASAD MEMBEBANI APBD PURWAKARTA

PELATIH : SEMENTARA PRESTASINYA JEBLOG TIDAK SEBERAPA

PURWAKARTA (eNPe.com) – Akademi Sepak Bola Asli Desa (ASAD) Jaya Perkasa, selama empat tahun dimanja oleh APBD Purwakarta. Kondisi ini, menurut satu pengurus Asosiasi PSSI Purwakarta memicu kecemburuan, sementara prestasi ASAD tidak pernah membanggakan Purwakarta.

“Yang direkrut oleh ASAD itukan orang dari luar. Bukan pemain asli Purwakarta. Selama ini ASAD didanai APBD secara besar-besaran. Sementara Persipo yang jelas-jelas milik rakyat Purwakarta dibuat mati suri,” jelas satu pengurus Asosiasi PSSI kepada eNPe.com kemarin (18/11).

KEBIJAKAN DEDI MULYADI SOAL PEMBINAAN SEPAK BOLA MERUGIKAN BANYAK KALANGAN, TERUTAMA PERSIPO YANG DIBUAT MATI SURI

Menurutnya, sejak empat tahun, ASAD dibiayai oleh APBD rata-rata Rp 1,2 miliar per tahun. Pada 2019 bahkan ASAD disuntik Rp 2 miliar. “Di Tajug Gede Cilodong ASAD dibuatkan lapangan juga dari dana APBD. Ini tentu menimbulkan pertanyaan di masyarakat, kenapa ASAD begitu diberi fasilitas lebih. Sementara Persipo yang jelas-jelas membawa nama Purwakarta hanya di kasih rata-rata Rp 100 juta,” ujarnya.

Kondisi ini, menurutnya, bisa terjadi hanya karena di struktur ASAD mantan Bupati Dedi Mulyadi duduk sebagai Pembina. “Sekarang sudah tidak lagi jadi Bupati masih saja menggunakan APBD untuk kepentingan ASAD,” jelasnya.

Sampai sekarang, pemain ASAD hidup makan dan tidur dijamin APBD. “Mereka tinggal di asrama di lapangan Purnawarman. “Fasilitas tidur mereka mewah, ketimbang tempat tidur tim Persipo saat masuk arena pelatihan,” jelas satu pelatih senior di Purwakarata.

Begitu juga fasilitas makan. Pemain ASAD bisa prasmanan, sementara pemain Persipo hanya nasi kotak. “Ada kegagalan visi dalam membawa dan membesarkan dunia sepakbola di Purwakarta. Kalau mau besar, ya besarkan Persipo, bukan ASAD. Prestasi ASAD akhir-akhir ini juga terjerembab,” jelas sang pelatih itu.

Kalaulah ASAD ada prestasi, menurut pelatih itu, maka efek yang bisa membangkitkan kebanggaan sepak bola Purwakarta tidak ada. “Sebagian besar pemain dari luar. Padahal bibit pemain lokal bagus. Tapi selama ini talenta pemain lokal diabaikan,” jelasnya.

Ia menyayangkan, dunia sepak bola yang mestinya steril dari kepentingan politik, dijadikan kuda tunggangan oleh orang per orang. “Ini yang menyebabkan sepak bola di Purwakarta tidak tumbuh pesat seperti di daerah lain,” jelasnya.

TIDAK JELAS STATUS HUKUMNYA

Sementara itu Kabid Olahraga Disporaparbud Pemkab Purwakarta Iwan Kartiwan mengakui kalau selama ini ASAD didanai APBD. “Tahun ini untuk ASAD disalurkan Rp 2 miliar,” jelas Iwan.

Iwan juga mengakui bahwa di ASAD, posisi Dedi Mulyadi sebagai Pembina. “Ini klub sepak bola, seperti klub-klub lain. Semua juga mendapat uang pembinaan,” jelas Iwan.

Menurutnya, ASAD juga dibuatkan lapangan dari dana APBD, “Tapi nanti siapapun boleh menggunakan lapangan itu.”

Ketika ditanya aspek legal mana yang menyebabkan ASAD tiap tahun mendapat dana dari APBD? Iwan tidak mampu menjelaskan soal itu. Iwan membantah kalau ASAD diperlakukan secara berlebihan.

Sementara itu, satu pengurus Asosiasi PSSI menyatakan selama ini ASAD begitu istimewa diperlakukan oleh Pemkab. “Semua orang tahu. Kalau Pemkab Purwakarta akan memajukan sepak bola, kasih uang pembinaan yang memadahi. Tidak hanya ASAD tapi juga 40 SSB dan Akademi Sepak Bola yang lain,” jelasnya.

Persipo sebagai klub kebanggaan anak Purwakarta juga diberi dana pembinaan yang memadahi. “Ini per tahun hanya Rp 35 juta. Pemain Persipo itu 85% asli Purwakarta. Sementara ASAD yang 90% pemain luar dibiayai habis-habisan. Ini ada yang salah,” jelasnya.

Sementara itu, Alwi pemilik ASAD menolak memberi penjelasan soal ini. “Saya lagi urus anak saya yang sakit,” jelasnya singkat. (bay/KDR).

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *