BisnisHead LinePemda

SATE MARANGGI Hj YETTY CIBUNGUR MEMBAYAR PAJAK RESTORAN NAIK 175%, SETELAH DIPASANG ALAT TAPPING BOX

KEBOCORAN PAJAK RESTO SELAMA INI MENGERIKAN

PURWAKARTA (eNPe.com) – Kebijakan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) untuk memasang alat deteksi elektronik (Tapping Box) di resto-resto besar, mulai membuahkan hasil. Di Resto Sate Maranggi Hj Yetty Cibungur, menurut satu pejabat Bapenda, setelah dipasangi Tapping Box, pembayaran pajak restonya naik sampai 175%. Kebijakan intensifikasi pajak ini akan terus dilakukan.

Kasubid Penggalian Potensi Bapenda Agus Alamsyah Bahtiar menegaskan hal itu kepada eNPe.com kemarin di ruang kerjanya. “Kita menyadari apa yang sudah kami lakukan belum memuaskan. Tapi langkah intensifikasi pajak akan terus kami optimalkan,” jelas Agus.

“Sejak Bapenda berdiri pada 2017, langkah pertama kami adalah intensifikasi pajak, apalagi di bawah asistensi KPK. Kami tidak main-main untuk urusan ini.” (Agus Alamsyah Bahtiar, Kasubid Penggalian Potensi Bapenda Pemkab Purwakarta).

Penerapan di Resto Sate Baranggi Hj Yetty, menurut Agus, mulai pada Desember 2019. “Dan pada pembayaran pajak resto Hj Yetty di Januari 2020 langsung naik 175%. Padahal penerapan 10% ke konsumen ini baru diterapkan secara terseleksi atau baru sekitar 40% dari konsumen yang datang,” jelasnya.

Pada pembayaran Januari 2020, menurut Agus, juga mengalami kenaikan sebesar 20% lagi. “Ini setelah penerapan pajak 10% diberlakukan kepada 70% konsumen yang datang. Mulai Februari 2020 di Sate Maranggi Hj Yetty akan diterapkan 100% ke konsumen yang datang. Kita akan lihat pembayaran Maret 2020 ada kenaikan berapa persen,” jelasnya.

Menurut Agus, pemasangan Tapping Box ini sudah dilakukan ke resto-resto tradisional yang besar-besar. Resto-resto itu antara lain; Resto Ibu Haji Ciganea, Sambel Hejo, Sajolna, Stasiun Kopi, Foodcourt Jogja Depstore, Heiho, Opa Cafe, Istora Cafe, Bakmi Topia dan Solaria. “Mereka sudah kita pasang alat ini sejak Desember 2019, dan kenaikan pembayaran pajak mereka rata-rata 35%,” jelas Agus.

ARTIKEL SERUPA  WABAH CORONA MULAI MENYERANG PERUMAHAN, WARGA DIAN ANYAR DAN BIP TERDAMPAK CORONA DENGAN STATUS ODP

SELAMA INI BOCOR DI MANA-MANA

Sementara itu, Ketua LSM Amarta Tarman Sonjaya menegaskan, ada kenaikan pembayaran pajak oleh resto-resto besar membuktikan bahwa selama ini pajak resto becor di mana-mana. “Kenaikan angka-angka itu adalah jawaban kepada publik bahwa selama ini memang terjadi kebocoran,” jelas Tarman.

DATA TARGET DAN REALISASI PAJAK RESTORAN 2015-2019 (SUMBER BAPENDA PURWAKARTA)

TAHUN20152016201720182019
TARGET10,7 M13 M16 M20 M24,2 M
REALISASI12 M15,7 M17,5 M20,7 M24,7 M
PROSENTASE112,7120,9108,7103,7102,1

Maka dari itu, pihaknya berharap agar langkah intensifikasi terhadap pajak resto mesti dilakukan secara ketat dan terus menerus. “Saya meyakini, kalau intensifikasi dilakukan secara optimal, maka kenaikan pajak restoran bisa tembus di atas 200%,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Masyarakat Purwakarta (KMP) Zaenal Abidin menambahkan bahwa kebocoran yang selama ini terjadi mesti diusut tuntas. “Ini bisa masuk kategori penipuan,” jelas Zaenal.

Pihaknya menyatakan bahwa cerita soal permainan pajak resto sudah menjadi rahasia umum. “Misalnya Sate Maranggi Cibungur, selama ini yang ngatur-ngatur pembayaran pajaknya kan diduga dimainkan oleh anggota dewan. Kita prihatin dengan kondisi ini,” jelasnya.

BUKAN PEKERJAAN MUDAH

Sementara itu, Sekretaris Bapenda Tin Sumartini menambahkan bahwa langkah intensifikasi pajak ini bukan pekerjaan mudah. “Yang kami hadapi di lapangan itu adalah pemain resto tradisional yang tidak banyak paham soal pajak. Maka yang petugas kami alami di lapangan itu macem-macem,” jelasnya.

Tin mengaku pernah terpaksa menghitung struk di Solaria, hanya untuk meyakinkan bahwa pajak yang dibayar itu benar. “Kami hitung manual struk satu kardus besar. Setelah itu kami pasang Tapping Box untuk memastikan. Ketika ternyata benar, alat itu kami copot,” jelasnya.

ARTIKEL SERUPA  MAKNA POLITIK PERTEMUAN ANIES BASWEDAN - SURYA PALOH

Agus punya pengalaman lain,”Saya sampai dilempar centong alat penanak nasi. Di tuding-tuding mukanya juga pernah. Itu yang kami alami. Perjuangan untuk menaikkan pajak bukan persoalan mudah,” jelasnya.

Ketika ditanya, apakah kenaikan pembayaran pajak sebesar 175% sebagai bukti ada kebocoran selama ini? Agus menampiknya. “Kita tidak bisa menilai itu bocor. Yang terjadi belum intensif,” jelas Agus.

Intinya, menurut Agus, sejak Bapenda berdiri sejak 2017, maka langkah pertama adalah intensifikasi pajak. “Kita tentu belum puas. Karena asistensi dan pengawasan oleh KPK terus ada evaluasi per tiga bulan. Jadi akan kami lakukan terus,” jelas Agus. (ril/PU)

Tags

Related Articles

Beri Komentar :

Your email address will not be published. Required fields are marked *