Head LineLingkunganPemda

RIBUAN BALITA DI PURWAKARTA MENGALAMI GIZI KRONIS (STUNTING) PADA 2019

TAHUN INI PENANGANAN STUNTING JADI PRIORITAS

PURWAKARTA (eNPe.com) – Kasus gizi kronis (stunting) masih merebak di Purwakarta. Setidaknya pada 2019, terdapat 3.413 balita masuk kategori stunting. Satu pejabat di Dinas Kesehatan (Dinkes) menyatakan, meski angka prosentasi stunting di Purwakarta menurun, tapi dari segi jumlah masih tergolong besar.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pemkab Purwakarta Aulia Solihin, M.KM menyatakan hal itu kepada eNPe.com akhir pekan lalu. “Kita akui kasus stunting masih besar. Maka dari itu, sudah dua tahun ini penanganan stunting sudah menjadi locus program di Pemkab Purwakarta,” jelas Aulia.

“Meski jumlah kasus stunting tiap tahun menurun, tapi dari aspek jumlah memang masih tergolong besar.” (Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pemkab Purwakarta Aulia Solihin, M.KM).

Stunting adalah kasus gizi kronis yang dialami balita sejak di kandungan sampai umur dua tahun. Dalam istilah kedokteran, stunting adalah status gizi berdasarkan tinggi badan berbanding umur (TB/U). Jika ada balita yang tinggi badananya pendek dan sangat pendek, maka menurut Aulia, masuk dalam kategori stunting.

Data dari Dinkes Pemkab Purwakarta menyebutkan, jumlah balita penderita stunting masih ribuan. Pada 2015 terdapat penderita stunting sebesar 7.820 atau 10,1% dari jumlah balita yang ada di Purwakarta. Pada 2016 terdapat balita penderita stunting mencapai 7.803 (9,94%). Pada 2017 ada 7.401 balita (9,45%). Balita penderita stunting pada 2018 sebesar 5.953 (7,8%). Dan pada 2019 sebesar 3.413 atau 4,6% dari jumlah balita yang ada.

Aulia menambahkan, pada 2019, kasus stunting terbanyak terjadi di Kecamatan Darangdan sebanyak 369 balita. Posisi kedua diduduki Kecamatan Plered sebanyak 363. Selanjutnya Kecamatan Bojong 361 balita. “Pada kasus di Kecamatan yang besar-besar Dinkes memberi perhatian lebih,” jelas Aulia.

BALITA SANGAT KURANG GIZI JUGA NAIK

Masih berdasarkan data dari Dinkes Pemkab Purwakarta, jumlah Balita sangat kurang gizi pada 2019 juga mengalami kenaikan. Pada kasus ini, menurut Aulia, untuk memberi gambaran kekuarangan gizi berdasarkan perbandingan berat badan dan umum (BB/U).

BALITA STUNTING PER KECAMATAN SE PURWAKARTA PADA 2019 (Sumber : Dinas Kesehatan Pemkab Purwakarta)

PUSKESMASJML BALITABALITA DIUKURSANGAT PENDEKPENDEKSTUNTING
PURWAKARTA14.46412.36341175216
CAMPAKA3.2902.8114113117
JATILUHUR5.6275.056117154271
PLERED6.7096.265134229363
SUKATANI6.2445.77616598263
DARANGDAN5.9835.69135334369
MANIIS4.0303.8083154157
TEGALWARU4.7764.451414788
WANAYASA3.2043.02050261311
PASAWAHAN3.7493.66034120154
BOJONG4.4124.388127234361
BABANCIKAO4.9424.5407172143
BUNGURSARI5.1724.745242852
CIBATU2.7902.32801616
SUKASARI1.5061.4386153114
PONDOKSALAM2.6162.61640137177
KIARAPEDES2.0632.06313228241
TOTAL81.57775.0199602.4533.413

Pada kasus sangat kurang gizi, menurut Aulia sifatnya temporer. “Ini pemeriksaannya sesaat. Jadi bisa saja, bulan ini kurang gizi, tapi pada bulan berikutnya sudah begizi baik,” jelasnya.

Pada 2018, jumlah Balita sangat kurang gizi sebanyak 477 Balita, sementara yang kondisinya kurang gizi sebesar 3.022 balita. Pada 2019, Balita yang mengalami sangat kurang gizi jumlahnya naik menjadi 490 balita jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara yang statusnya kurang gizi turun menjadi 2.622 balita.

JADI PROGRAM PRIORITAS

Sementara itu, Aulia menjelaskan, untuk program stunting, tahun ini memang menjadi locus utama program. “Baru dua tahun terakhir kita lebih bekerja keras menangani kasus stunting,’ jelasnya.

Untuk itu, menurutnya, untuk menekan kasus stunting maupun kekurangan gizi, mesti menjadi program kerja bersama secara kolektif. “Tahun ini banyak sekali yang mesti dikerjakan secara bersama-sama. Tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan,” jelasnya.

JUMLAH BALITA MENURUT STATUS GIZI (BB/U) (Sumber : Dinas Kesehatan Pemkab Purwakarta).

URAIANSANGAT KURANGKURANGBAIKLEBIH
20184773.02271.1111.509
20194902.62270.4851.422

Program bersama ini, jelas Aulia, mesti melibatkan dinas lain, juga tokoh masyarakat, LSM dan media. “Dengan strategi itu maka akan dengan mudah kita mampu menekan serendah mungkin kasus stunting,” katanya.

Menurut Aulia, program reguler selama ini juga cukup membantu. “Kita punya 990 tenaga penyuluh kesehatan yang terampil. Mereka selalu menggerakkan posyandu untuk memantau kesehatan balita,” ujar Aulia.

“Ada juga bantuan biskuit dari pusat. Ini untuk menjaga gizi balita. Ada juga program makanan sehat dari APBD. Jadi secara terprogram kita sudah melakukan banyak langkah,” jelasnya.

Munculnya stunting dan gizi sangat kurang, menurut Auli juga disebabkan oleh pola pembinaan keluarga, penyakit bawaan dan pengetahuan soal gizi yang rendah. “Jadi ini tidak semata soal gizi,” jelasnya.

Staunting, menurut Aulia, memang bisa menjadi persoalan serius yang permanen, kalau penanganannya terlambat. “Kalau stunting sudah terlanjur memakan waktu lebih dari dua tahun, efeknya akan berbahaya. Ini akan terjadi lost generations,” ujarnya.

Kalau terlambat, jelas Aulia, maka pertumbuhan otak akan terhambat. Daya ingatnya turun. “Dan akan memengaruhi masa depan mereka,” jelasnya.

“Maka dari itu, kontrol terhadap ibu mengandung dan balita dari lahir sampai dua tahun menjadi sangat penting,” jelasnya. (ril/nur/PU).

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close