Head LinePolitikSuspensi

PETIR DAN GUNTUR MENGGELEGAR, ANGIN RIBUT MENGAMUK KENCANG, KETIKA KADISDUK PURWANTI TIBA-TIBA MEMANGGIL KPK KE KANTORNYA

INI terjadi di negeri antah berantah. Persisnya di Kabupaten Purwakarti, bukan Purwakarta lho ya. Ada pejabat Kadisduk bernama Purwanti, —INGAT jangan salah tulis Purwanto, nanti ada yang marah lagi— Yang tiba-tiba menggelar acara antikorupsi, di kantornya.

AKU sempat tercenung sebegitu lamanya, ketika petir dan guntur menyalak ganas di langit Purwakarti. Angin ribut mengamuk, menerjang apa saja yang ada di depannya, pada Sabtu akhir pekan lalu. Kemudian, pada Senin kemarin, tiba-tiba semua media mainstream, pengusung dinasti memberitakan dengan judul dan isi yang seragam,”Kadisduk Purwanti mendapat pujian KPK.”

“Jieh,” aku mengguman sepontan, sambil tanganku menangkup di dada, mataku pun berkedip-kedip haru, dibuatnya. Yuhuuu ….

Ada apa gerangan? Alam sebegitu murkanya, menyeringai, seiring dengan peristiwa sepenting itu. Kenapa alam sebegitu sinisnya, ketika Dinas Pendidukan Pemkab Purwakarti ingin bersih-bersih –atau sok doang? — dalam perkara korupsi.

Karena penasaran, aku cari sang Petir yang sangar itu. Saat aku lihat Petir itu menyalak menjulurkan lidah apinya ke bumi, aku pun menangkapnya,”Hup.” Ia mencoba meronta. Tapi aku lilit dan masukkan ke gelas aqua.

Gelas itu bergolak, “Apa salahku.” Ia protes. Meronta. Tapi tak berdaya.

‘Kamu diamlah. Aku ingin bertanya hal-hal penting. Jadi diam …” mataku melotot, telunjukku menuding tajam. Sang Petir pun luluh, diam tak berdaya. Pijaran listriknya pun meredup.

“Gini Petir. Kamu mesti jawab. Kenapa bangsamu begitu murka, ketika di Disduk ada upaya bagus soal urusan korupsi. Begitu pongahnya Kamu, mengamuk, memorakporandakan rumah, listrik kamu buat padam. Apa masalahmu dan apa salahnya Purwanti, sebagai Kadisduk yang mau bertobat itu … apa masalahnya …”.

Tiba-tiba petir itu menyalak, wajahnya memerah, lipatan tali yang melilitnya hancur, botol aqua pun luruh. Pecah. Ia lolos terbang. Berputar dan mengelilingi kepalaku sambil teriak,” Apa urusanmu dengan aku. Kami benci para koruptor yang sok suci.”

“Husss ….,” Aku membantak. “Jangan lari kamu, jawab pertanyaanku ….”

“Hei manusia …,” jawab sang petir sambil matanya menyalak merah. “Nyadar untuk tidak lagi korupsi itu bagus …. tapi kami bangsa Petir tahu ….apaa isi hatimu. Kami murka karena bangsamu hobi pencitraan. Upaya bersih-bersih korupsi hanya untuk korupsi lagi dan lagi … akal-akalan anggaran,” jelasnya ketus.

“Sebentar ….,” sergahku.

“Jangan potong dulu …. .” sang petir meliuk mendekati kepalaku. “Sekawanan temanmu itu bagus-bagus saja seolah-olah ingin menunjukkan ke publik bahwa kamu sudah antikorupsi, kamu akan ambil bagian dari gerakan antikorupsi. Tapi kami tauuuuuu ….,” sang Petir tiba-tiba mengamuk, lidah api menjulur ke semua yang ada di depannya, Ia mengamuk sejadi-jadinya. Lidah api itu menyalak ke sana ke mari, percikan api pun menghanguskan semua yang ada. Aku berjingkat menghidar sambil menyalak,” Gila kamu … hentikan omong kosongmu…”

Dengan nafas terengah, sang Petir berdiri mengambang, sementara tangan apinya menunjuk ke mukaku. “Dengarrrkan wahai manusia,” ujarnya mendengus. “Aku tahu, dan karena itu aku gerammm …. Kamu … berteriak antikorupsi, tapi kelakuanmu pada detik yang sama masih juga fasih menggaruk duit rakyat untuk dikorupsi lagi, dengan akal bulusmu. Aku tidak percayaaa …,” sang petir menyalak sambil melemparkan bola api ke arahku. Aku menggeser tubuhku menyamping untuk menghindar.

“Dengarkan wahai manusia … hanya orang yang punya rekam jejak bagus yang bisa dengan tulus ikhlas masuk dalam barisan antikorupsi. Rasanya tidak lucu, sergahnya, “Kamu tiap hari maling …. tiba-tiba di koran-koran teriak-teriak antimaling … Aneh bin ajaib bangsamu itu,” kata sang petir sambil menyalak-nyalak marah.

“Jadi kamu anggap Purwanti hanya pencitraan,” tanyaku menyergah ocehannya.

“Saya malas menilai bangsamu. Palsu dan menipu. Maka dari itu …. camkan sikapku dan jangan gagal paham,” sang Petirpun menyalak sekali lagi. Ia melenting ke atas, menembus awan, sambil berujar,”Kapan kalian akan tobaaaat wahai manusia kerdiilll.”

Aku pun tergagap dalam mimpiku. Hari telah sebegitu siangnya. Matahari telah menjalari halaman rumah dengan sinarnya yang tajam. Bergegas aku nyalakan VCDku, melihat konser Iwan Fals yang lagi membawakan lagu, …”Hio…”

Dengan rasa malas yang masih membuncah, aku dengarkan lagu itu …. “Aku mau jujur-jujur saja …. bicara apa adanya … aku tak mau mengingkari hati nuraaaniii …. hio …. hio … hio …. hio …hio …. “.(KDR)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close