Head LineOpiniPolitik

MEREVOLUSI MENTAL KERE

Oleh : Prof Warsono, Akademisi UII Yogyakarta.

SALAH satu penyebab Indonesia belum maju adalah faktor mental bangsa.

Para ilmuwan seperti, Koentjaraningrat telah mengingatkan bahwa bangsa  Indonesia memiliki mental penerabas. Husin Alatas menyebutkan bangsa Indonesia memiliki mental malas.

Mental tersebut jelas sangat menghambat kemajuan dan menggambarkan karakter yang tidak baik. Padahal kemajuan suatu bangsa saat ini diyakini lebih banyak ditentukan oleh karakter daripada kompetensi atau sumber daya alam. Oleh karena itu, di negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Australia, karakter menjadi bagian yang diutamakan dalam pendidikan.

Karakter yang kurang mendukung kemajuan tersebut sampai saat ini masih menjadi bagian dari budaya bangsa kita. Perilaku korup baik uang maupun waktu masih banyak terjadi di kantor-kantor pemerintah.

Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo pada awal pemerintahannya mencanangkan adanya revolusi mental. Namun selama lima tahun pemerintahan Joko Widodo pada periode pertama, revolusi mental belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Hal ini bisa disebabkan kurang operasionalnya konsep revolusi mental.

Mental apa yang akan direvolusi dan diubah menjadi apa perlu dirumuskan secara jelas. Ketidakjelasan operasional konsep menyebabkan program yang akan dilakukan juga tidak jelas. Akibatnya hasilnya juga kurang optimal.

Ada persoalan mental yang sebenarnya sangat menghambat kemajuan dan bisa menjadi sumber konflik sosial maupun politik yaitu “Mental Kere” (Mental Miskin).

Mental ini menjadi penyebab korupsi, apalagi jika mental ini berbarengan dengan mental penerabas dan malas.

Mental kere merupakan mental yg hanya mau menerima tetapi tidak mau memberi. Bahkan mental seperti ini membawa konsekuensi sikap yang selalu kurang, tidak mau bersyukur atas apa yang telah diperoleh.

MENTAL KAYA

Mental kere ini juga menjadi sumber konflik yang potensial, karena mereka tidak pernah mau memberi, termasuk memberi maaf dan memberi kesempatan kepada orang lain. Lihat saja apa yang terjadi di ruang-ruang publik seperti pada saat antri atau di jalan raya. Mereka tidak mau memberi kesempatan kepada orang lain, tetapi malah menerabas antrian atau terus memaksa orang lain untuk memberi jalan.

ARTIKEL SERUPA  KETIKA PDAM PURWAKARTA KELEWAT RAJIN PUASA DAUD

Mental kere ini harus direvolusi menjadi mental kaya yang suka memberi kepda orang lain (altruisme).

Jika mental ini bisa dibangun dan dimiliki oleh setiap warga bangsa, korupsi akan bisa dikikis. Setiap orang akan mengendalikan diri untuk tidak mengambil yang bukan haknya.

Mereka lebih suka dan bangga jika bisa memberi daripada meminta apalagi mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Mental kaya ini harus menjadi bagian utama dari target revolusi mental. Mental ini harus ditanamkan sejak kecil melalui pembiasaan dan keteladanan.

Anak-anak harus dibiasakan memberi termasuk memberi senyum, maaf, kesempatan apalagi memberi hal yang bersifat material seperti uang, atau sebagian dari barang yang dimiliki.

Memang mengubah mental bukan hal yang mudah dan tidak bisa terjadi secara instan, tetapi butuh usaha yang terprogram secara terus menerus dan waktu yang lama. Namun hal yang lebih utama adalah harus dimulai dan dari hal-hal yang jelas dan operasional.

Merevolusi mental kere menjadi mental kaya merupakan hal yang harus segera dilakukan sejak usia dini. (PU).

Tags

Related Articles

Beri Komentar :

Your email address will not be published. Required fields are marked *