Thursday, September 24, 2020
Beranda Head Line MERASA DIANIAYA, SATU PASIEN CORONA MEMUTUSKAN MENGGUGAT BUPATI SEBAGAI KETUA TIM GUGUS...

MERASA DIANIAYA, SATU PASIEN CORONA MEMUTUSKAN MENGGUGAT BUPATI SEBAGAI KETUA TIM GUGUS TUGAS SECARA PIDANA DAN PERDATA

KORBAN MERASA TERINTIMIDASI, MENDAPAT HUKUMAN SOSIAL DAN KEHILANGAN PEKERJAAN

PURWAKARTA (eNPe.com) – Merasa teraniaya dan terintimidasi hidupnya, satu pasien yang terkonfirmasi positif Corona dan sekarang sudah sembuh, memutuskan untuk menggugat Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemkab Purwakarta. Gugatan itu, menurutnya, akan dilayangkan baik secara perdata maupun pidana.

Suparman, warga Kampung Paldalapan 12/3 Kelurahan Cijaya Kecamatan Campaka, menegaskan itu kepada eNPe.com semalam (13/5/20). “Saya sudah menunjuk lawyer dan yang akan saya Gugat itu Bupati, Kepala Dinas Kesehatan, Direktur RS Bayu Asih, Ormas Gibas Sektor Campaka, Kades Cijaya Tri Sutisna, Prabu Tarma dan Mila Karmilawati,” jelas Suparman.

Dokumen ini membuktikan bahwa Suparman tidak melarikan diri saat keluar dari RS Bayu Asih, pada 5 April 2020. Tapi karena dokter menyimpulkan bahwa dirinya bukan terkena Corona.

Dirinya merasa kesal dengan sikap Gugus Tugas yang semena-mena terhadap kasusnya. Ia merasa banyak pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan oleh Tim Gugus Tugas.

“Saya juga merasa diintimidasi, ada tekanan sosial yang membuat saya dan isteri saya stress. Padahal isteri saya sedang hamil muda. Dan ini terjadi karena kesalahan Gugus Tugas,” jelas Suparman.

Pihaknya memutuskan untuk menggugat, karena merasa benar. “Saya ini tidak pernah lari dari Bayu Asih. Saya datang ke Bayu Asih atas kesadaran sendiri. Tapi efek yang terjadi, akibat pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan oleh Tim Gugus Tugas, maka saya sekarang teraniaya, ditolak oleh lingkungan dan saya kehilangan pekerjaan. Ini yang akan saya gugat,” jelasnya.

AWAL MASALAH DARI GUGUS TUGAS

Suparman kemudian menceritakan kronologi kejadian yang menimpa dirinya.

Menurutnya, pada 1 April karena dia demam dan lemas, maka Ia ambil inisiatif periksa ke satu Klinik di Sandang. “Tapi kemudian dirujuk ke RS Bayu Asih, karena klinik itu khawatir,” jelasnya.

Atas kejadian itu, menurut Suparman, ia melapor ke HRD di mana dia bekerja di satu perusahaan ekspedisi. “Saya dirawat selama lima hari dan dinyatakan oleh dokter saya sakit bronkitis akut. Tapi karena kondisi saya sehat, pada 5 April saya diperbolehkan pulang,” jelasnya.

Setelah itu, Ia mengaku aktif lagi bekerja. “Hasil dari dokter yang menyatakan saya negait Corona saya laporkan ke perusahaan beserta dokumen pendukungnya,” jelas Suparman.

Tapi saat saya lagi bekerja, tiba-tiba tanggal 15 April 2020 keluar hasil uji swab saya dari Jawa Barat yang menyatakan saya terkonfirmasi positif Corona.

“Saya sendiri tidak tahu kalau saya berstatus positif Corona. Karena saya lagi bekerja. Banyak ke luar kota,” jelasnya.

Yang kami sayangkan, menurut Suparman, saat pencarian itulah, Tim Gugus Tugas meng-upload kasus saya ke Medsos. “Tim Gugus Tugas juga membuat video yang jelas-jelas menyatakan bahwa saya pasien yang melarikan diri dari RS Bayu Asih,” jelasnya.

Maka di Medsos, menurutnya, saya jadi bulan-bulanan. Saya diburu LSM Gibas. “Padahal saya keluar dari Bayu Asih dengan surat resmi dari dokter bahwa saya saat itu bukan Corona. Dan Saya tidak pernah melarikan diri,” jelas Suparman.

Dan yang kami sangat kesal itu, di RS Bayu Asih data soal saya itu detail. Di mana saya bekerja, kantor saya di mana, rumah saya di mana. “Mestinya Gugus Tugas tanya dong ke Bayu Asih. Ini yang mereka lakukan malah menyebar saya di Medsos seolah saya lari dan pindah-pindah kos. Padahal saya lagi bekerja dan kos saya ya di situ-situ saja,” jelasnya.

Pada malam 30 April 2020, saya ditemukan oleh tim Gugus Tugas. Penjemputan saya begitu dramatis. Pakai Ambulan, dikawal Kapolsek dan petugas Gugus Tugas dengan pakaian yang menyeramkan.

“Saya waktu itu jelaskan saya itu tidak tahu kalau saya positif. Dan saya tegaskan saya tidak melarikan diri,” jelasnya.

Waktu itu, menurut Suparman, Ia akhirnya di bawa ke Dinas Kesehatan. “Air liur saya diambil lagi untuk uji swab kedua kalinya. Tapi kondisi saya saat itu baik-baik saja. Tidak demam. Tapi dalam status positif Corona,” jelasnya.

Sikap Dinas selanjutnya yang dia sayangkan. “Mereka sudah tahu saya positif Corona, tapi mereka menyuruh saya dikarantina di rumah. Ini yang kemudian memicu tekanan sangat berat ke saya dan isteri yang lagi hamil muda,” jelasnya.

Mestinya, sesuai Protokol Kesehatan, pasien positif ya diisolasi di Rumah Sakit. “Ini saya disuruh pulang oleh dokter di Dinas Kesehatan. Bukan atas kemauan saya. Efeknya ke mana-mana. Isteri saya yang tadinya baik-baik saja, akhirnya ikut tertekan,” jelasnya.

Akhirnya, menurut Suparman, Ia dan isteri di bawa ke Bayu Asih. “Kami selama di Bayu Asih hanya tidur-tiduran saja. Selama di rawat malah hanya dikasih vitamin dan Jamu Jago yang harganya Rp 2.500,” jelasnya.

Menurutnya, tiga hari yang lalu, hasil swab saya dan isteri keluar dan dinyatakan negatif. “Yang aneh, sampai malam ini saya belum diperbolehkan pulang,” jelasnya.

BUKTI SURAT KETERANGAN UJI SWAB ROSITA ANGGRAENI, ISTERI SUPARMAN YANG DINYATAKAN NEGATIF CORONA

Saya tanya ke dokter,”Saya sudah negatif Corona, kapan saya boleh pulang?” Jawab dokternya,”Kamu itu pasien titipan. Nunggu kondisi masyarakat reda baru boleh pulang,” jelasnya.

MEMUTUSKAN MENGGUGAT

Akhirnya, Suparman merasa sangat teraniaya. “Saya mengikuti semua alur SOP yang ditetapkan oleh negara. Tapi oleh Tim Gugus Tugas mereka langgar. Secara psikologi saya sangat tertekan, jengkel. Isteri saya lagi hamil muda. Sanksi sosial sudah saya terima. Dan saya kehilangan pekerjaan akibat kasus ini,” jelasnya.

Karena itu, menurut Suparman, saya merasa telah dianiaya oleh negara. “Makanya saya memutuskan untuk menggutan,” tandasnya.

Ia mengaku akan menggugat karena beberapa hal. “Pertama soal pelanggaran Protokol Kesehatan oleh Tim Gugus Tugas yang menyebabkan tekanan yang luar biasa ke keluarga saya. Kedua, mereka menyebut secara gamblang nama pasien. Padahal menurut UU tidak diperbolehkan. Ketiga, ada ancaman fisik bahkan ancaman pembunuhan kepada diri saya oleh banyak pihak akibat kebijakan Gugus Tugas yang keliru. Dan Keempat saya kehilangan pekerjaan,” jelasnya.

Pihaknya sudah menunjuk pengacara handal yang punya reputasi mengalahkan Pejabat saat beperkara. “Saya merasa harga diri saya sudah jatuh. Gugatan ini akan saya hadapi sampai tuntas, meski nyawa taruhannya. Ini persoalan harga diri saya dan keluarga,” jelasnya.

Terkait status Suparman, saat lagi heboh-hebohnya, Direktur BLUD RS Bayu Asih dr. H. Agung Darwis Suriaatmadja M.Kes menyatakan kasus ini spesifik.

“Jadi Suparman ini adalah pasien terkonfirmasi positif Corona tapi tanpa gejala. Dia positif tapi kondisi fisik sehat. Makanya dengan perhitungan yang matang, tim dokter membolehkan karantina di rumahnya secara mandiri. Secara klinis tidak membahayakan, asal semua pihak mematuhi protokol kesehatan,” jelasnya.

Pengacara Agus Supriyanto SH, ketika dikonfirmasi soal kesiapannya mendampingi kasus ini menyatakan siap. “Nanti begitu keluar dari RS kita akan segera bertemu untuk merumuskan gugatan,” jelasnya.

Pengacara Agus, selama ini dikenal sebagai pengacara yang selalu sukses setiap kali berhadapan dengan penguasa. Terakhir adalah ketika menggugat Bupati Dedi Mulyadi saat berperkara melawan Kades Sukatani Asep Sumpena. (bay/PU).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

JEMBATAN DARURAT BODEMAN AKAN DIBANGUN DARI APBD PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2020

SUDAH DIAJUKAN ANGGARAN PERUBAHAN SEBESAR Rp 5 MILIAR PURWAKARTA (eNPe.com) - Jembatan Bodeman yang runtuh, menurut satu...

POLDA DAN KEJATI JABAR PERIKSA EMPAT PEJABAT DISTARKIM PURWAKARTA TERKAIT DUGAAN KORUPSI DI 11 PROYEK TERMASUK TAJUG GEDE CILODONG

KETUA KMP : "KAMI AKAN KAWAL SAMPAI TUNTAS." PURWAKARTA (eNPe.com) - Polda dan Kejati Jawa Barat...

TEST SWAB DI RS BAYU ASIH KINI BISA DALAM DUA JAM DIKETAHUI HASILNYA POSITIF CORONA ATAU TIDAK

SETELAH MENDAPAT BANTUAN MESIN PCR DARI GUGUS TUGAS PUSAT PURWAKARTA (eNPe.com) - Test swab -untuk tahu pasien...

SETELAH SEMPAT HABIS, PASIEN DENGAN STATUS PDP MUNCUL LAGI

TINGGAL DUA KECAMATAN YANG MASIH ZONA MERAH PURWAKARTA (eNTe.com) - Setelah sempat sembuh 100%, kini pasien dengan...