FeaturesHead LineWisata

MENIKMATI FESTIVAL JAZZ JATILUHUR YANG JOZ GANDOS BANGET … NGET … NGET …

Oleh : Guntoro Soewarno, Petani yang juga Penggemar Jazz. (Features ini aku dedikasikan kepada Jazzer tanah air).

PENGGEMAR maniak musik Jazz selalu sedikit. Tidak sebanyak saat pementasan bang Rhoma atau musisi legendaris lainnya seperti Ebiet G Ade atau Iwan Fals. Tapi percayalah, musik-musik yang disuguhkan selalu sangat berkualitas dan berkelas. Itulah suasana malam pertama “The First International JATILUHUR JAZZ FESTIVAL.”

DWIKI DHARMAWAN DENGAN WORLD PEACE PROJECTNYA

Semalam baru kali ini, aku merasa hidup di luar Purwakarta. Nyaris tidak percaya, Purwakarta yang aku kenal sangat sarat dengan dugaan korupsinya, bisa menyuguhkan nuansa yang sangat berbeda. Kolaborasi antara Direksi Perum PJT 2 dengan Dwiki Dharmawan’s Management sungguh menawan. Kita juga pantas mengapresiasi Pemkab Purwakarta yang tidak mau kalah untuk ikut andil menyukseskan pentas musik Jazz kelas dunia ini.

Biasanya, musik Jazz bisa kita nikmati dalam suasana serba formal. Personil rapi, di ruang mewah dan sesekali berjas. Aku sempat bengong, ketika mesti harus menikmati alunan Jazz di lapangan terbuka, di pelabuhan Biru yang becek di sana-sini. Tapi nyatanya sungguh mampu menghadirkan suasana yang sungguh lain dan sangat bisa dinikmati.

DI TANGAN SYAHARANI, MUSIK JAZZ JADI SANGAT RENYAH DAN MENGHENTAK.

Membaur dengan para maniak Jazz di lapang terbuka adalah susana lain yang juga berbeda. Apalagi, ketika Syaharani muncul dengan gayanya yang di luar nalar. Di tangan Syaharani, Jazz yang formal menjadi sangat liar, berjingkrak, menghentak dengan kekuatan personal tim yang sempurna.

Syaharani bisa begitu renyah membawakan album-album terbarunya yang belum dilempar ke pasar. Tentu ia ingin berbagi jiwa dengan penggemarnya.

JAVA JIVE

“Kita sama-sama cuci sepatu besooook … jazzer itu anti becek dan anti hujan… Seru bangeet …” teriak Syaharani kepada penggemarnya. Publik yang hadir pun menggemuruh.

WIZZY SUKSES MEWAKILI GENERASI JAZZ MILENIA

Festival Jazz ini makin berkelas, ketika Dwiki Dharmawan mementas. Ia membawa dua musisi kelas dunia, Steve Thorton dari Amerika, Kamal Musalam dari Jordan dan satu pemain kendang dari Malaysia. Kolaborasi dalam bentuk konserto ala Dwiki sungguh menghadirkan genre musik yang asing di telinga.

Mendengarkan Dwiki Dharmawan Wordl Peace Project yang disuguhkan, aku diingatkan musisi kontemplasi ala Kitaro, dari Jepang. Sangat membumi, hijau dan hening. Karakter Dwiki sangat dominan dalam kolaborasi itu. Ia selalu berhasil menghadirkan warna musik yang komplit dan sangat bisa dinikmati.

MARCEL SIAHAAN

Dwiki sejak dulu ya Dwiki, ia selalu piawai dan renyah dalam menyuguhkan gaya Jazz bernuansa konserto. Ia tidak akan pernah meninggalkan gayanya, mengabsen satu-satu timnya yang punya skill tingkat dewa untuk menyuguhkan satu-satu dari bass, drum, sampai perkusi yang mengentak.

Dwiki juga mencoba mengerek Wizzy, penyanyi Jazz milenia yang sangat atraktif. Suara Wizzy sudah pasti Jazz banget. Kehadiran Wizzy ingin memastikan bahwa regenerasi musik Jazz Indonesia terus berlangsung dengan baik.

Festival Jazz pertama ini makin lengkap ketika Java Jive, Marcel Siahaan dan Selaawi hadir menyuguhkan lagu-lagu hits mereka. Marcel juga tampil sangat menawan. Ia sukses menyesuaikan lagu-lagu hitnya yang pop dalam warna Jazz.

Aku lihat Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika betah duduk di podium didampingi Direktur Utama Perum PJT 2 U Saefudin Noer, menikmati susana Jazz yang diiringi gerimis dengan begitu khusyuknya.

DIRUT PJT 2 U SAEFUDIN NOER. DI TANGAN DIA FESTIVAL JAZZ INTERNASIONAL SUKSES DIEKSEKUSI DENGAN SEMPURNA.

Bupati Anne sampai meninggalkan acara pernikahan anak sahabatnya. Ia lebih memilih untuk tenggelam bersama Jazzer mania di Pelabuhan Biru Jatiluhur.

Festival Jazz Jatiluhur ini bakal mampu mengubah peta konser-konser sejenis di tanah air, karena mampu menyuguhkan konser Jazz tahunan dengan suasana Jatiluhur yang berbeda. Tentu ini langkah awal yang sangat bagus. Festival Jazz berkelas ini bakal mampu mengerek nama Jatiluhur dan Purwakarta ke pentas dunia.

ANNE RATNA MUSTIKA

Di tengah hiruk pikuk Fentival Jazz ini, saya menjadi ingat Ali Makad, dan budayawan musik Purwakarta lainnya. Kang Ali sempat berkirim foto sambil menjelaskan kalau lagi menikmati Jazz Festival ini dari belakang panggung.

Aku hanya tersenyum simpul sambil berharap, Fastival ini mestinya tidak hanya mengerek nama-nama besar yang itu-itu saja. Tapi mampu menyedot para penggiat musik di Purwakarta ikut terkerek masuk. Tidak hanya menjadi penonton saja. Apalagi nontonnya dari belakang seperti kang Ali … Akh …. tapi sudahlah ….

Lepas dari hiruk pikuk konser ini, rasanya rugi deh, kalau pementasan berkelas dunia ini hanya banyak dinikmati oleh orang Bandung. “Kamu yang Purwakarta …. Manaaa. Ayo kita buat konser ini bisa membanggakan buat Purwakarta Istimewa …. Masih ada sehari lho …. Bakal ada Krakatau, Ermi Kulit dan penyanyi Jazz berkelas lainnya. Sukses untuk Kang Uu Saefuddin Noer. Di tangan anda, Festival ini bisa dieskesusi dengan sempurna. (PU).

 

 

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *