CultureHead LineSuspensi

MENGGUGAT SECARA BRUTAL CARA BERKESENIAN DEDI MULYADI

SUSAH rasanya aku untuk tidak mengabadikan, ketika sekelompok kecil para penggiat Seni dan Budaya di Purwakarta, beberapa malam yang lalu berkumpul. Tidak banyak orang seh, tapi isi pembicaraannya gurih dan berdaging.

Oleh : Guntoro Soewarno, Penikmati Seni dan Kebudayaan.

Apalagi thema yang mendadak jadi penting muncul pertanyaan, atau persisnya gugatan cara berkesenian di Purwakarta dalam rentang 10 tahun terakhir. Eksistensi mereka, sebagai penggiat kesenian anti-mainstream tergugah. Mereka menggutan, tanpa berniat untuk menggelar perlawanan. Intinya, sudah saatnyalah para Budayawan penggiat seni tampil, menunjukkan eksistensi dirinya dengan bebas, tanpa ada proses pendiktean terhadap apapun dan oleh siapapun.

Selama 10 tahun, Dedi Mulyadi menggerakkan seni, apakah salah? Tentu tidak. Cuma di tangan dia, kesenian menjadi begitu sempit ruang geraknya. Bagi DM, sapaan akrab Dedi, ruang berkesenian mesti meluncur dari kamus yang dirumuskannya sendiri.

Ruang ekspresi adalah hak mutlak telunjuk jarinya, untuk memastikan jalan atau tidak. Maka, mana kesenian yang penting untuk dikembangkan dan diberangus adalah apa kata titah dirinya.

Yang terjadi kemudian ruang kreatif hanya berkembang di satu sisi saja. Di sebelah sana. Di sini para seniman yang terpinggirkan dibuat laiknya cacing kepanasan, gerah, haus, miskin dan terlilit banyak larangan.

Bagi DM, berkesenian adalah iket kepala yang seragam, atau arak-arakan kereta kencana. Atau bolehlah ada banyak sanggar tari yang berkembang, tentu dengan catatan tebal, yang bisa berkembang adalah mereka yang beredar di lingkaran garis kekuasaan.

Berkesenian di tangan DM begitu menjadi politis. Ritual lima tahunan, dalam bentuk pendekatan kepada semua komunitas seni, ber haha hihi, kemudian selfi bareng dan naik ke media sosial adalah produk rutin unggulan, ketika ruang kesenian berkolaborasi dengan politik. Produk akhirnya tentulah pencitraan bagi DM dan hilangnya rasa dahaga bisa karena percikan uang atau kepuasaan sesaat yang menipu bagi para penggiat komunitas seni di Purwakarta.

Para penari Jaipong pada HUT Purwakarta, satu bentuk kesenian tanpa akar kreatifitas yang unggul.

Berkesenian bagi penguasa saat itu adalah membangun momen-momen besar tapi tanpa akar, tanpa ruh. Berbagai rekor Muri memang diraihnya, tapi apakah itu mampu melahirkan para seniman-seniman yang berkelas? Pasti tidak.

ARTIKEL SERUPA  BUPATI ANNE AKHIRNYA HAPUS PROGRAM JAMPIS, SEJUMLAH WARGA MENGELUHKAN KEBIJAKAN INI

Publik juga tidak boleh lupa bahwa agenda tahunan Napak Tilas khas Purwakarta, jalan ramai-ramai dari Wanayasa ke Sindangkasih itu diberangus dengan sempurna oleh tafsir berkebudayaan yang sepihak oleh penguasa.

Struktur berkesenian yang terbangun akhirnya melahirkan tata kehidupan berkebudayaan yang penyakitan: Tanpa kretifitas, tanpa ruang yang luas untuk melahirkan karya-karya yang berkelas.

Maka dari itu, mempertanyakan cara berkesenian DM yang seolah menjadi stempel ampuh bagi komunitas seniman Purwakarta patut diungkap ulang secara mendalam.

Kini saatnyalah para penggiat seni bangkit dan berani mengepalkan tangan untuk berkata,”Tidak…”, bagi segala upaya penyeragaman berseni dan berkebudayaan. Laiknya jalan pedang Mushashi, ia akan terus bergerak untuk mengubah yang rusak dan meluruskan yang bengkok-bengkok.

Mengembalikan ruh berkesenian agar ruangnya lebih luas, memberi latar yang dalam untuk berkreasi jauh lebih penting dan beradab, ketimbang membawa-bawa budaya dalam ranah politik yang kotor dan tak berperikemanusiaan.

Purwakarta akan semakin istimewa, kalau cara kita berkesenian lebih fokus pada karya-karya bermutu, tidak terjebak formalisme pagelaran yang ditonton banyak orang, akibat semua pejabat Purwakarta membuat surat edaran untuk datang. Situasi itu akan melahirkan kesenian tanpa akar. Kesenian tanpa jiwa yang kering kerontang.

Tentu kita tidak mau itu terjadi. Pedang Mushashi sudah saatnyalah keluar dari warangkanya. Ini agar, kita tidak terus menerus, laiknya sekerumunan seniman dungu yang mau diatur-atur dan didikte oleh penguasa.

Komunitas konsorsium Budayawan Purwakarta sudah saatnya mampu melahirkan karya-karya berkelas dan joz. Karena ruang berkesenian telah benar-benar hidup, dengan ruh, dan gairah yang bebas, yang bakal mampu melahirkan karya-karya fenomenal asli Purwakarta. (KDR).

Tags

Related Articles

Beri Komentar :

Your email address will not be published. Required fields are marked *