Head LinePolitikSuspensi

MELONGOK ISI BATOK KEPALA ANGGOTA DEWAN PURWAKARTI

Oleh : Guntoro Soewarno, Pegiat Sosial

GUNTORO SOEWARNO

DI NEGERI Purwakarti¬†– Bukan di Purwakarta lho — para periset serius dan akademisi heboh. Mereka meriung, memperbincangkan dengan serius perilaku wakil rakyat mereka di negeri Purwakarti yang luar biasa. Para profesor riset itu sungguh heran sekaligus bangga, akan kecerdasan mereka.

“Ini sungguh kecerdasan tingkat langit,” jelas Profesor A sambil menggosok-gosok jidatnya.

“Kecerdasan mereka melebihi kejeniusan Albert Einstein, penemu rumus kekekalan energi,” Profesor B menimpali.

“Sebagai Asociate Profesor, kecerdasan kita jauh di bawah para anggota dewan di negeri Purwakarti itu. Kita miris,” tukas Profesor C.

Media On Line Politik lokal newspurwakarti.com lagi heboh memberitakan sidang para anggota dewan dan Bupatinya yang selalu membahas angka-angka anggaran senilai triliunan rupiah, selesai hanya dalam hitungan jam. Ini tentu bisa dilakukan hanya dan hanya oleh mereka yang super jenius.

Menjadi wajar, kalau kemudian Asociate Para Profesor itu tergeilitik untuk meneliti langsung isi kepala para anggota dewan itu.

“Dari aspek disiplin ilmu manapun kecerdasan mereka tidak wajar. Makanya ayo kita tengok isi kepalanya seperti apa,” jelas Profesor B.

“Bagaimana caranya?” tukas Profesor C dengan antusias.

“Kita mesti berselancar ke dalam isi kepala mereka. Biar secara faktual, fakta yang kita peroleh bukan hoax, tapi fakta empirik,” Profesor A mencoba memberi jalan keluar.

“Metodenya?” Ujar Profesor B mencoba meminta penjelasan yang agak rinci.

“Teknologi IT generasi 6 memungkinkan kita bisa menjelajah isi kepala mereka. IT generasi terbaru ini bisa menghilangkan dimensi ruang dan waktu dari benda apapun. Jadi begitu kita masuk ke tabung yang bersinar laser ultra sonic, kita bisa masuk ke dimensi manapun,” jelas profesor A dengan antusias.

Mereka akhirnya bersepakat. Mereka berunding kapan mau menelisik isi batok kepala para anggota dewan di negeri Purwakarti itu.

Akhirnya mereka setuju untuk melakukan riset itu pada Jumat Kliwon, 30 Februari 2032.

Tibalah saat yang mereka nantikan.

Pagi itu, tiga profesor yang sebenarnya super jenius itu sudah berkumpul di lab milik Profesor A.

Di hadapan mereka berdiri tabung besar, laiknya gelas yang terbalik. Ada pintu dan tabung itu berdinding kaca. Prof A mulai mencet satu per satu tombol digital yang ada di depannya. Dari dalam tabung meletik-letik listrik, menjalar-jalar seperti kilatan petir, berwarna jingga dan pink.

Ketiganya pun masuk ke tabung itu. Dan plasss …. asap mengepul, menggulung mereka. Suasana menjadi hening ketika tiga kilatan cahaya terlontar dari ujung atas mesin itu. Plassss …..

Selang tiga jam ….. Tabung itu bergolak hebat. Pijaran listrik mengamuk, mengguntur, meletup-letup dan Plasss ….. Tiga profesor itu terlempar dari dalam tabung dan jerjerembab di atas lantai.

Sadar terhadap dirinya dan apa yang telah terjadi, mereka saling pandang. Serempak mereka memukul jidat mereka sambil berujar,”Ini tidak mungkin.”

“Apa yang kalian lihat dalam batok kepala mereka,? tanya Prof A kepada kedua koleganya.

Professor B,”Aku melihat isi batok kepala mereka penuh dengan onggokan sampah, bau, ada gelas Aqua, kaleng biskuit penyok, air comberan, penuh dengan lalat yang terbang berseliweran dan belatung … Hiiii …”

“Lha kok sama ….,” sergah Profesor C sambil berjingkat.

“Saya juga …,” ujar Profesor A terkekeh sambil mengelus dada.(KDR).

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close