BisnisHead LineLingkungan

LIMBAH PT SOUTH PACIFIC VISCOSE DIDUGA CEMARI UDARA DAN AIR, WARGA TAHUNAN HIDUP MENDERITA

PERUSAHAAN ABAIKAN KELUHAN WARGA

PURWAKARTA (newspurwakarta.com) – Prestasi PT South Pacific Viscose (SPV) dalam urusan produksi sungguh luar biasa, sehingga bisa menjadi perusahaan terbesar kedua di dunia. Sayang, prestasi dalam urusan mencemari lingkungan diduga juga tidak kalah luar biasanya. Sejumlah warga menuturkan, udara dan air telah dicemari oleh perusahaan asal Austria ini. Keluhan mereka bertahun-tahun tidak digubris oleh pihak manajemen.

Warga Kampung Sawah RT 04 RW 02 Desa Cicadas, Kecamatan Babakancikao Haji Mughni menuturkan hal itu kepada newspurwakarta.com kemarin (9/3).

HAJI MUGHNI

“Kami warga Desa Cicadas sudah kesal terhadap bau dan dampak gas dari PT SPV. Beberapa kali kami mendemo, sampai mengajukan gugatan ke PTUN. Tapi mereka sangat kuat sehingga bisa ‘membeli’ apapun dan siapapun yang mengganggu mereka,” kata Haji Mughni dengan nada kesal.

Haji Mughni menambahkan, penderitaan warga makin sempurna akibat pencemaran juga sudah merambah ke kualitas air tanah. “Selain udara yang bau, air di sekitar kampung kami sudah tidak steril lagi. Kami minta perusahaan ambil langkah konkret untuk memperbaiki pengelolaan limbah pabrik, baik limbah padat, cair dan gas. Udara sekitar pabrik bikin sesak napas,” ujar Haji Mughni.

Hal senada diungkapkan, Dedeh, warga Desa Cicadas yang lain. Menurutnya, warga sudah bosan mengungkapkan kekesalannya terhadap manajemen PT SPV.

“Walaupun sudah dirugikan, kami tidak mendapat kompensasi apapun dari mereka. Tiap hari kami mencium bau tidak enak, bahkan kami sudah lama tidak berani minum air tanah. Kami minum pakai air kemasan. Karena takut air sumur tercemar limbah pabrik,” katanya.

Selama tiga hari, reporter media ini menyisir sekitar pabrik PT SPV. Saat malam hari, bau menyengat sebagai akibat dari gas buang sangat mengganggu pernafasan. Kondisi udara tidak steril lagi.

Sementara, di Kampung Sawah air menjadi coklat kehitaman. Hal ini diduga akibat pembuangan limbah cair. Tanah di lokasi pembuangan berubah warna menjadi putih seperti kapur dan kekuning-kuningan.

BANYAK REKOMENDASI DISEPELEKAN

Sebelumnya, Pada 9 Mei 2018, perusahaan yang saham mayoritasnya dikuasai Lenzing AG asal Austria ini mendapat Sanksi Administrasi Paksaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

HASIL SAMPEL TANAH DI LOKASI PEMBUANGAN LIMBAH CAIR PT SPV, TANAH DIAMBIL KEMARIN (9/3). TAMPAK TANAH BERWARNA PUTIH KECOKLATAN LAIKNYA ES KRIM.

Hasil kajian Menteri LHK sejak Februari 2018 menemukan lima pelanggaran berat oleh PT SPV dalam tata kelola limbah baik cair, maupun B3.

Ketua DPW Komite Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (KPLHI) Purwakarta Dedi Supriyatna menyatakan bahwa dalam tata kelola limbah, PT SPV selama ini memang kredibilitasnya rendah. “Kami tentu sangat menyayangkan sikap seperti itu,” jelasnya.

Menurut Dedi, banyak hal yang diduga telah dilanggar oleh perusahaan ini, baik itu rekomendasi menteri, maupun rekomendasi Pemkab Purwakarta. “Semua rekomendasi itu untuk perbaikan. Tapi disepelekan oleh perusahaan. Makanya problem itu akan ada terus,” jelasnya.

Sementara itu, Head of Corporate Affairs PT SPV Widi Nugroho Sahib membantah informasi itu.

“Setelah menghubungi Kepala Desa Cicadas Sulaeman Purba, dinyatakan bahwa tidak ada keluhan dari warga Cicadas kepada PT  SPV.  Dan Haji Mughni itu bukan warga RT.04 RW.02 Desa Cicadas,” jawab Widi melalui saluran WhatsAppnya. (tim/PU).

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close