Head LineOlahragaPemda

LEMBAGA KLASIK : M HUSNI TERPILIH SEBAGAI KETUA KONI, CACAT SECARA ADMINISTRASI

BAKAL TERJADI LAGI HIBAH BUAT BANCAKAN PENGURUS

PURWAKARTA (eNPe.com) – Muhamad Husni, seorang ASN terpilih menjadi Ketua KONI Purwakarta. Tapi menurut Ketua Lembaga Kelas Anggaran Sektor Kabijakan Publik (Klasik), terpilihnya Husni cacat secara administrasi.

Ketua Klasik Reza Artagraha menegaskan hal itu kepada eNPe.com kemarin (28/8) dalam satu kon pers dengan sejumlah jurnalis. “Dari tiga bakal calon yang memenuhi syarat hanya satu, yaitu Adjat Sudradjat. Tapi ini yang dipilih yang tidak memenuhi syarat,” jelas Reza.

REZA ARTAGRAHA

Menurutnya, proses pemilihan Ketua KONI menabrak aturan perundang-undangan. “Ini kebiasaan buruk yang mesti kita luruskan,” jelas Reza.

“Bukan hanya persoalan dalam ketentuan PP No. 16 Tahun 2007 saja yang menjadi persoalan, jika benar bahwa beliau merupakan ASN dan menjabat kepala sekolah. Keganjilan lain tentunya dalam hal pendaftaran pencalonan ketua KONI yang dilakukan oleh tim penjaringan dan verifikasi bakal calon ketua KONI. Jika kita lihat mekanisme penjaringan ketua KONI yang dibuka dari tanggal 19 Juli 2019 sampai dengan 19 Agustus 2019 oleh tim penjaringan dan verifikasi tersebut itu ada 3 bakal calon ketua KONI,” ujar Reza.

Seperti diketahui bahwa tiga bakal calon tersebut yaitu Adjat Sudrajat, Isep Saprudin Yahya, dan Muhamad Husni. “Dari ketiganya yang sudah diverifikasi oleh tim penjaringan hanya Adjat Sudrajat yang lolos verifikasi akan tetapi yang menjadi ketua terpilih Muhamad Husni,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika kinerja tim penjaringan dan verifikasi ini tidak diindahkan tentunya buat apa dibentuk tim penjaringan dan verifikasi bakal calon ketua KONI kalau ternyata itu semua tidak terpakai hasil penjaringan.

“Tim penjaringan dan Verifikasi bakal calon ketua itu kan ada 7 orang dan sudah melakukan mekanisme yang sudah ditentukan. Serta sudah melakukan verifikasi berkas bakal calon ketua. Masa tidak terpakai hasil penjaringan dan verifikasi tersebut sih,” ungkapnya.

Tangapan senada juga keluar dari Sekertaris Lembaga Klasik, Susi Siti Khodijah. Menurutnya bahwa KONI merupakan sebuah ujung tombak dalam meningkatkan prestasi dalam cabang olahraga.

“Jika kita lihat dalam temuan BPK tahun 2017 mengenai dana Hibah KONI sebesar Rp 400 Juta, bahwasanya dana tersebut bukan untuk kegiatan pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi, akan tetapi di pergunakan untuk pemberian uang representasi. Maka patut diawasi bersama penggunaan anggaran  kedepannya mengenai Hibah ke KONI dikhawatirkan akan seperti tahun 2017 lagi dan ini bahaya buat kelangsungan olahraga di Purwakarta “. jelas Mahasiswi STIE MUttaqien itu. (nas/PU).

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *