FeaturesHead LinePemda

“KISAH LIMA KADIS DI PURWAKARTA YANG NOMOR HAND PHONENYA GANTI-GANTI TERUSSSSS ……!”

“Kadisdik Purwanto sudah dua bulan nomer hand phonenya mati. Sementara ruang kerjanya juga dikunci rapat, tidak lagi sebebas dulu”

CERITA ini menarik. Kisah yang memotret kekesalan sejumlah aktivis LSM dan wartawan di Purwakarta yang menganggap aneh perilaku lima kepala dinas yang nomer hand phonenya ganti-ganti terus. Penelusuran eNPe.com membuktikan bahwa mereka selama ini diduga dikenal sebagai Kadis pro dinasti.

Meraka adalah Kepala Dinas Pendidikan Purwanto, Kepala BKSDM Asep Supriyatna, Kadistarkim Agung Wahyudi, Kepala BKAD Norman Nugraha dan Kepala Bappeda Aep Durohman.

Lazimnya, pejabat publik, yang mengelola dan menikmati duit rakyat, mestinya bisa berkomunikasi secara terbuka, santai dan nikmat dengan siapapun. Tapi lima pejabat ini sungguh aneh bin ajaib. Entah ada dosa apa yang mereka kais setiap hari, sehingga sebegitu takutnya berkomunikasi dengan LSM dan wartawan.

Bisa jadi, bagi kalangan tertentu, atau kroni mereka, bisa dengan mudah mereka berkomunikasi. Tapi bagi penggiat antikorupsi, untuk mengontak mereka susahnya minta ampun.

Ketua DPC Projo Asep Burhana pernah berkomentar,”Jangan harap bisa ketemu Aep, orangnya pergi-pergi terus.” Ini ada apa, katanya seolah bertanya pada diri sendiri. Seorang reporter, Jenar berujar,”Saya punya nomer Aep empat biji tapi mati semua.”

Kadistarkim Agung juga setali tiga uang. Di kalangan Kabidnya seolah sudah lazim, kalau Kadisnya makin susah dihubungi hand phonenya. “Ya begitulah, sering mati,” jelas satu Kabid di Dinas itu.

Distarkim kini menjadi sorotan publik, karena Dinas ini jor-joran menggelontorkan duit puluhan miliar ke proyek yang tidak jelas juntrungannya; Tajug Gede Cilodong.

Satu aktivis KPP menceritakan bahwa orang Distarkim sekarang rajin berkunjung ke Tajug Gede untuk merumuskan proyek-proyek di sana. Tahun ini, di Tajug Gede Bupati melalui Distarkim menganggarkan uang rakyat sebesar Rp 19 miliar. Salah satunya untuk membangun kawasan Nyai Pohaci, Dewi Padi yang beberapa waktu yang lalu sempat jadi polemik dan mendapat protes Ulama Purwakarta.

Kadisdik Purwanto apalagi. Sejumlah aktivis sempat gedor-gedor ruang kerja Purwanto karena sekarang untuk masuk tidak bebas lagi. “Ya kami sempat gedor pintu,” jelas Wakil Ketua KPP Tarman Sonjaya. 

Tidak hanya menutup diri soal ruang kerjanya, Purwanto sudah dua bulan hand phonenya mati. “Susah dihubungi,” jelas Tarman.

Kepala BKSDM lebih aneh lagi. “Dia bisa gonta ganti nomer HP seminggu bisa dua tiga kali,” jelas orang dekat Asep Supri. Maka dari itu jangan harap bisa berkomunikasi dengan Asep, ujarnya. Asep juga jarang ngantor. “Sering keluar pak,” jelas satu stafnya saat media ini mencoba berkunjung ke ruang kerjanya.

Di dunia jurnalistik ada adagium begini; “Hanya pejabat yang bersih yang mau terbuka dengan wartawan.” 

Bisa jadi, lima pejabat yang diduga sedang mendapat “tugas khusus” ini mesti menutup diri dengan banyak pihak. Karena, yang sudah pasti, ada sesuatu yang sedang dan akan direncanakan. Bisa satu dugaan kejahatan terorganisir, atau bisa juga satu dugaan perencanaan jahat yang berkedok kebaikan. Publik tidak tahu.

Tapi lepas dari itu semua, pejabat publik itu adalah pelayan masyarakat. Mereka mesti transparan dalam penggunaan dana APBD karena itu dana publik. Menjadi aneh bin ajaib kalau mereka tiba-tiba menutup diri, seolah ketakutan dugaan persekongkolannya mereka diketahui publik.

Atau bisa jadi, mereka menutup diri diduga karena takut ditagih banyak orang akan janji yang telanjur diucapkan. “Jadi tukang PHP kah mereka?” Wallahu a’lam.

Tapi sungguh memprihatinkan mentalitas mereka yang selalu menutup diri terhadap satu kewajiban untuk menjunjung tinggi transparansi kepada siapapun. “Hmmm ……. Capee bener deeeh…”(ril/KDR)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close