Head LineTajuk

KETIKA SATPOL PP “MENGGARUK” PEDAGANG DI PERUM DIAN ANYAR

“KELEWAT LEBAY DAN KURANG KERJAAN …”

KETIKA saya bercerita ke anak-anak tentang berita heboh penertiban pedagang di Perum Dian Anyar oleh Satpol PP, komentar anak saya sungguh orisinil,”Kasihan pedagang.” Komentar dari hati nurani yang jujur.

Dan sesungguhnya, penertiban oleh Satpol PP di satu perumahan itu kelewat lebay dan berlebihan. Mendatangkan Satpol PP untuk pekerjaan yang remeh temeh itu seperti memites lalat dengan boldozer. Kaya kurang kerjaan.

Pedagang di pasar kaget perumahan itu memang benar, kadang menjengkelkan, kadang menyenangkan. Ini tentu menyenangkan buat ibu-ibu yang urusan dapurnya jadi simpel dan sederhana. Dan ini menjadi menjengkalkan ketika memicu macet di jalan utama itu.

Tapi perlu diingat, pemicu kemacetan itu bukan semata pedagang. Tapi juga lahan parkir yang sempit. Di lokasi itu juga sudah ada Satpam yang mengatur soal parkir ibu-ibu yang kadang suka ngeyel dan suka mendadak budeg saat melintas mobil warga. Jadi perlu dicatat, bukan semata pedagang.

Problem lain yang serius adalah soal kredibilitas pengurus RW yang tidak becus ngurus urusan kecil ini. Kalau RW punya kredibilitas yang cukup dan punya strong leadership yang memadahi, kasus Satpol PP turun ke perumahan sungguh tidak perlu terjadi.

Perlu diingat, RW sebelumnya sudah berhasil mengosongkan jalan utama untuk pedagang. Dan merelokasi ke lokasi di belakang. Problem itu selesai. Dan sekarang muncul problem yang sama, seiring pergantian pengurus RW.

Cuma kita tentu menyayangkan, cara Ketua RW menyelesaikan probem kecil ini dengan pendekatan kekuasaan. Persis orde baru dulu. Apalagi ini urusan laler, keong, kucing. Kecil bener.

Satpol PP juga kelewat keren. Ketika banyak tambang pasir tanpa izin dibiarkan saja beroperasi, tanpa langkah apapun. Ini malah ngurusi hal remeh-temeh pedagang di Dian Anyar. Sungguh memalukan.

ARTIKEL SERUPA  ANGKA PERCERAIAN DI PURWAKARTA NAIK 24% PADA 2019, SEBANYAK 1.979 KASUS. TIAP HARI 5 ORANG BERCERAI.

Pedagang adalah pedagang. Orang yang memutuskan hidup dan urusan perutnya dari hasil dagangannya. Kalau mereka didekati dengan pendekatan ala tentara, maka mereka pasti menurut. Tapi ingan di hati mereka benih-benih kebencian mulai tumbuh. Jadi jangan bangga, menyelesaikan urusan kecil dengan tangan kekuasaan.

Mestinya Ketua RW instrospeksi ke dalam. Banyak-banyaklah menangis di sepertiga malam. Tangis yang disebabkan ketidakbecusan mengatur pedagang, juga tangis karena telah menanamkan kebencian di hati pedagang.

Tradisi Dian Anyar adalah tradisi dialog, karena warganya punya kapasitas intelektual yang cukup. Terpelajar, bukan sekerumunan preman. Kalau pendekatannya gaya sok berkuasa, saran saya, tempatnya bukan di sini.

Kebiasaan untuk guyup rukun, tolong jangan dikotori oleh nafsu sok hebat dengan menggunakan tangan orang lain. Hanya sekedar untuk menutupi cacat dan kelemahan diri.

Zaman lagi serba susah. Hargai warga yang lagi mengais-ngais sesuap nasi dengan susah payah. Jangan hidup mereka kalian buat makin susah dan susah lagi. Wallahu a’lam.

Tags

Related Articles

Beri Komentar :

Your email address will not be published. Required fields are marked *