BisnisHead LineTajuk

KETIKA PDAM PURWAKARTA KELEWAT RAJIN PUASA DAUD

Pribadi muslim yang biasa puasa Daud, adalah mereka yang tingkat ketaqwaannya canggih. Maka dari itu, ia rela dan ikhlas untuk sehari puasa, sehari tidak puasa.

PDAM Purwakarta juga tingkat ketaqwaannya super canggih, sehingga ia sangat rajin ikut puasa Daud. Sehari airnya mengucur, seharinya pipa-pipa PDAM keluar angin. Sangat disiplin, keren dan joz.

Gara-gara PDAM Purwakarta sangat ketat menjalankan ibadah Puasa Daud itulah, ribuan KK di Perumahan Dian Anyar tiap dua hari sekali menggerutu, dibuat repot, malam-malam mestinya tidur pulas, ini harus meronda air. Ya gara-garanya itu, PDAM Purwakarta tinggkat keimananya kelewat canggih, sehari ngucur air, sehari libur, laiknya puasa Daud.

Penyakit gaya mengelola BUMD yang memonopoli air ini terus bertahan, katrok, kampungan dan culas. Dulu saat kemarau, atas nama air kekeringan, seminggu sekali air mengucur, puasanya enam hari. Sangat menyebalkan.

Kini ketika musim hujan menderas, entah atas nama apa, sekarang jurus puasa Daud yang diterapkan. Efeknya, orang ngantri di masjid-masjid, dua hari sekali. Sungguh biadab.

Dalam bisnis, wajah akhir produk satu perusahaan adalah cerminan secanggih apa manajemen mengelola bisnis itu. Ketika PDAM memberi layanan ala puasa Daud, maka di muara sana, manajemen pasti tidak lebih dari sekerumunan “bandit” yang tidak berdaya. Hanya bisa tidur kenyang, banyak ngopi dan ngerokok. Soal layanan air yang icrit-icrit gak peduli.

Kebobrokan manajemen PDAM Purwakarta sungguh sudah pada tingkat kelewat akut. Mestinya, kalau tidak becus mengelola air, maka mundurlah. Jangan kalian perpajang penderitaan masyarakat banyak, hanya karena kalian ingin terus bertahan laiknya kodok di atas pohon kelapa.

PDAM Purwakarta adalah produk kebiadaban politik. Pola kekuasan yang selalu menjadikan BUMD sebagai sapi perahan, untuk mengutil uang, atas nama pembangunan.

Efek yang bisa dirasakan adalah seperti sekarang ini. Krisis air tidak hanya terjadi saat kemarau, tapi saat hujan deras dan banjir air. Tentu ini super konyol.

ibarat penyakit kanker, problem PDAM Purwakarta kini laiknya kanker stadium empat. Karena sudah gawat, mesitnya kepalanya dulu yang diamputasi. Ketika direksi yang sangat miskin prestasi terus menerus dipertahakan, atas nama kronisme, maka seperti sekaranglah hasilnya. Publik dibuat menderita seumur-umur.

PDAM adalah lembaga bisnis milik publik, maka sudah sewajarnya, lembaga bisnis ini menerapkan prinsip-prinsip dasar dalam berbisnis. PDAM yang tiap tahun kenyang mengunyah duit  APBD ini tidak pantas bertingkah amatiran. Direksi mesti profesional, tidak boleh kinerja didedikasikan kepada penguasa, tapi kepada masyarakat banyak.

Kalau PDAM terus-menerus bertingkah laiknya badut yang rajin beratraksi atas nama jabatan, maka sudah saatnya mereka mundur, atau dimundurkan.

Mereka sudah kelewat kenyang, tubuhnya tambun, kelewat nikmat. Sehingga entah apa yang mereka pikirkan, ketika nyaris enam bulan, masyarakat Purwakarta menjadi bulan-bulanan akibat ketidakbecusan mereka bekerja. Dasar dodol. (PU).

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *