BisnisHead LineTajuk

KETIKA KEBIJAKAN BUPATI ANNE “MENGGERGAJI” HAK HIDUP PEDAGANG PASAR JUMAT

NASIB 39 pedagang pasar Jumat Purwakarta sungguh mengenaskan. Hanya oleh pernyataan lisan Bupati Anne Ratna Mustika, hak hidup mereka langsung sirna. Itulah kekuasaan yang bengis, tidak berpihak kepada rakyatnya.

Renovasi Pasar Jumat di Blok C, semula adem-adem saja. Itu terjadi karena Pemkab menjanjikan pedagang boleh kembali berdagang di Blok C setelah renovasi selesai. Tapi apa lacur, usai berkunjung ke lokasi pasar, Bupati langsung menegaskan bahwa pedagang lama tidak boleh kembali menempati pasar itu. Alasannya, semua gedung itu akan digunakan untuk pelayanan terpadu satu pintu.

PEDAGANGNYA SEDANG DALAM PROSES DIMISKINKAN OLEH KEBIJAKAN BUPATI YANG SEPIHAK.

Sejak direlokasi ke pasar seberangnya, terutama menempati lantai 2, pedagang sudah resah. Ini akibat pengunjung tidak ada. Maka sebagian besar gulung tikar. Pedagang yang biasanya mendapat omzet harian rata-rata Rp 1 juta sekarang nihil. Kemiskinan mendadak mendera mereka. Dan Bupati apakah ada empati soal ini?

Makanya wajar. Begitu renovasi selesai, mereka kemudian menagih janji Pemkab untuk kembali berdagang di lokasi lama. Tapi mendadak Bupati melarang hanya dengan omongan lisan.

Kebijakan Bupati ini tentu menyakitkan pedagang. Mereka bakal kehilangan aset lokasi berdagang yang sangat strategis. Mereka bakal dibuat miskin secara struktural. Miskin mendadak akibat satu kebijakan yang menindas.

Ketua Iwapa Pasar Jumat dan semua anggotanya pun kemudian mengadukan nasibnya ke Komunitas Masyarakat Purwakarta (KMP). Pengaduan ini kemudian direspon cepat oleh Ketua KMP Zaenal Abidin.

“Hak pedagang untuk bisa menempati kios itu mesti dikembalikan. Kita akan perjuangan ini sampai tuntas,” jelas Zaenal.

Kisruh pedagang pasar Jumat tentu punya nilai politik dan ekonomi yang strategis. Di sana bukan semata soal pedagang boleh menempati kembali atau tidak. Tapi inti dari persoalan itu adalah soal rebutan aset.

ARTIKEL SERUPA  DIREKTUR UTAMA PT INDONESIA VICTORY GARMENT SEGERA DITETAPKAN MENJADI TERSANGKA

Kita mesti tahu dan berhitung bahwa punya kios di tengah kota seperti di Pasar Jumat tentu punya nilai ekonomi yang sangat tinggi. Jaminan omzet juga lebih terjaga. Dan jangan lupa, di lokasi itu satu pedagang ada yang punya dua kios, tiga kios bahkan ada yang punya enam kios.

Nilai ekonominya sangat tinggi.

Maka dari itu menjadi aneh bin ajaib, nilai aset yang sebegitu mahalnya akan dihapus oleh kebijakan Bupati yang hanya disampaikan secara lisan. Bisa dipastikan pedagang pasti melawan. Karena kita tahu yang mereka perjuangkan adalah hak hidup yang paling mendasar: Urusan perut urusan ekonomi.

Publik kemudian kembali menilai sikap Bupati yang sangat teledor ini. Kita kemudian diingatkan oleh kebijakan Bupati di awal-awal berkuasa, yang tanpa studi apapun tiba-tiba menghapus sekolah satu atap. Ironi kebijakan yang terus berulang. Faktor utama tentu soal kompetensi sebagai Bupati, patut dipertanyakan dengan sungguh-sungguh.

Kita akan disuguhi drama Bupati Versus Rakyat yang ke depan akan sering muncul. Untuk pasar Jumat ayo kita lihat siapa yang menang. Kekuasaan sehebat apapun, ketika yang dilawan urusan perut jangan harap akan menang. Maka dari itu, sebelum terlambat dan malu di tengah jalan, Bupati,”Bertobatlah.” (KDR).

Tags

Related Articles

Beri Komentar :

Your email address will not be published. Required fields are marked *