Head LinePemdaPolitik

KETIKA DEDI MULYADI DAN LALAM PECAH KONGSI

REKOMENDASI LALAM SOAL MUTASI PEJABAT DIDUGA DICORET BUPATI

PURWAKARTA (newspurwakarta.com) – Lalam Martakusumah pecah kongsi dengan Dedi Mulyadi. Penyebabnya diduga urusan mutasi dan proyek pengadaan ambulan yang dicoret oleh Bupati. Lalam pun meradang dan memutuskan untuk mundur dari jabatan sebagai sekjen DPD Partai Golkar Purwakarta.

Satu politisi senior di Purwakarta menuturkan hal itu kepada newspurwakarta.com, akhir pekan lalu. “Saya selama ini pasang badan. Kenapa usulan saya soal mutasi pejabat eselon III dicoret semua sama Bupati. Saya kesal bener,” ujar sang politisi menirukan ucapan Lalam saat menelpon dirinya.

HUBUNGAN DEDI DAN LALAM MULAI PECAH KONGSI, BAKAL MENGUBAH PETA POLITIK DI PURWAKARTA

Beberapa waktu yang lalu, publik Purwakarta dibuat kaget. Saat itu beredar surat pengunduran diri Lalam dari jabatan Sekjen DPD Partai Golkar Purwakarta. Pada surat bermaterai itu, Lalam beralasan bahwa pengunduran dirinya karena kesibukan.

Lalam selama ini mendapat julukan Panglima. Ia orang kepercayaan Dedi Mulyadi. Selama ini secara terang-terangan Lalam pasang badan untuk Dedi.

Saat Dedi Mulyadi dengan arogan menghardik wartawan, dan mendapat perlawanan dari Ikatan Wartawan Online (IWO), Lalam mengancam akan membuat demo tandingan jika ada demo besar menyoal sikap DM.

Saat Pilkada kemarin, Lalam juga menjadi panglima operasi terhadap pemenangan pasangan Anne – Aming.

Tapi arus politik ternyata sudah berubah arah. Ibarat habis manis sepah dibuang. Sebagai panglima Timses Anne, rekomendasi Lalam dalam soal mutasi selon III tidak digubris oleh Bupati Anne Ratna Mustika.

Atas kejadian ini, Lalam meradang. Ia menilai, Dedi Mulyadi tidak pandai mengamankan kepentingannya.

Sumber media ini di kalangan Partai Golkar menyatakan sikap Anne juga sikap Dedi Mulyadi. “Dedi juga marah, karena DM ingin Anne sukses dan tidak boleh diatur-atur oleh siapapun,” jelas politisi itu.

Inilah yang menyebabkan Lalam kemudian mundur dari posisinya sebagai Sekjen DPD Partai Golkar Purwakarta.

Kasus lain, menurut politisi Golkar itu adalah dugaan Lalam untuk pengadaan mobil ambulan. “Anne menolak usulan Lalam karena pengadaan ambulan melibatkan Kades-Kades. Anne tidak mau ambil risiko munculnya kegaduhan dalam pengadaan ambulan ini,” jelasnya.

LALAM MEMBANTAH

Sementara itu, saat dikonfirmasi sehari setelah beredarnya surat pengunduran dirinya,  membantah kalau penyebab pengunduran dirinya dipicu soal mutasi jabatan dan proyek pengadaan ambulan. “Itu hak prerogatif Bupati. Jadi tidak benar soal ini,” jelasnya.

Lalam mengaku sikap ini ia ambil semata karena soal waktu. “Yang penting saya sudah berhasil mengantarkan Golkar Purwakarta mendapat kursi lebih banyak,” jelas Lalam.

Sementara semalam ketika dikonfirmasi ulang, Lalam hanya menyatakan,”Kepo ih. Emang tidak ada berita yang lain.” Lalam kemudian mengirim Surat pengunduran dirinya dengan menyatakan,”Jelas kan?”.

SURAT PENGUNDURAN DIRI LALAM

Wakil Ketua Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Purwakarta Zaenal Abidin menilai sikap Bupati terhadap Lalam itu risiko politik. “Bupati dengan beban APBD yang masih berat, tentu ingin mengurangi beban terhadap para timses yang begitu banyak. Cuma kali ini yang kena sapu Lalam. Orang yang selama ini sangat dipercaya oleh penguasa. Ini tentu mengejutkan publik,” jelasnya. (bay/KDR).

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *