Head LinePemdaTajuk

KETIKA BUPATI ANNE RAJIN MENCIPTAKAN MUSUH-MUSUH POLITIK BARU

ARUS PERUBAHAN BAKAL TERUS BERHEMBUS KENCANG

POLITIK belah bambu, mulai dijalankan oleh Bupati Anne Ratna Mustika. Caranya, satu-satu tim suksesnya dibuang, atas nama penataan sistem. Tapi percayalah, sikap politik ini telah memicu kekecewaa banyak pihak dan melahirkan musuh-musuh politik baru.

Yang pertama terjadi adalah tersingkirnya Lalam Martakusumah, yang selama ini dikenal sebagai Panglima Dedi Mulyadi, suami Bupati. Meski Lalam dicantolkan ke Golkar Jawa Barat, tapi percayalah itu gaya DM menyingkirkan koleganya yang selama ini pasang badan untuk kepentingan apapun.

Dilepasnya Lalam dari lingkaran satu Bupati tentu sangat mengejutkan publik. Siapapun tahu siapa Lalam selama ini. Dalam percaturan politik lokal, ternyata kubu Purwanto diduga lebih unggul ketimbang posisi politik Lalam. Perseteruan keduanya kini makin terbuka, dan Purwanto diduga menang telak untuk kali ini. Kita tidak tahu ke depannya.

Lalam kini jadi bola liar bagi perpolitikan Purwakarta. Menggeser orang kepercayaan tentu sangat berisiko. Karena bisa dipastikan Lalam tahu banyak “jeroan” DM selama ini.

Sebelum kasus Lalam mencuat, sudah berhembus dengan kencang dugaan perseteruan antara Bupati dengan wakilnya Haji Aming. Beberapa kasus telah menyebabkan keduanya susah untuk rukun.

Menyingkirkan Aming jangan dikira tidak memicu risiko. Apalagi di belakang Aming berdiri banyak LSM yang selama ini menjadi timses pasangan ini.

Mengisolasi Aming juga berarti membatasi ruang gerak LSM-LSM pendukung Aming dan ini bisa memicu rasa kecewa terhadap sikap Bupati ini.

Kelompok ketiga yang kecewa adalah arus mutasi eselon III dan IV yang diduga telah menyisakan banyak masalah. Dalam kasus dugaan jual beli jabatan ini, sebanyak 84 ASN dicoret Bupati. Padahal mereka diduga sudah membayar antara Rp 40 juta sampai Rp 60 juta per orang, kepada “pemain” proyek jual beli jabatan ini.  Gagalnya mereka tentu menciptakan resistensi akut kepada Bupati.

LSM lain yang patut dihitung dan berpotensi beroposisi dengan Bupati adalah LSM Kompak. Pecahnya DM dengan LSM Kompak terjadi akibat Pilkada lalu, saat Ketua LSM Kompak memutuskan untuk melawan dominasi DM, yang memajukan pasangan Anne – Aming.

Jadi, setahun Bupati berkuasa, telah lahir banyak musuh-musuh politik potensial yang bakal mengganggu kinerja Bupati ke depan. Setidaknya, daya kontrol dan sikap dendam dari mereka yang dikecewakan akan membayang-bayangi perjalanan politik Anne.

Kondisi ini membuktikan bahwa masalah mendasar Bupati adalah soal kompetensi. Apapun, seorang Bupati yang miskin pengalaman dan berlatar belakang ibu rumah tangga sangat berpotensi memicu masalah yang bakal menghambat kinerjanya.

Masa depan Anne akan rumit oleh hal-hal non teknis yang Ia ciptakan sendiri. Apalagi ketika sikap politik Lalam dengan AMSnya sudah jelas. Kondisi ini akan makin membuat repot Bupati.

Tapi ya sudahlah, kita terima nasib saja, punya Bupati yang jauh dari ideal. Anggaplah ini takdir yang mau tidak mau wajib kita terima dengan ngelus dada? (PU).

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close