Head LinePemdaTajuk

KETIKA BUPATI ANNE MENCOPOT CAMAT CAMPAKA

HIDUP memang laiknya roda berputar. Kadang di atas, pada waktu yang lain di bawah, menyentuh air comberan. Ulama Campaka kini sedang berbunga hati, tapi pada ruang yang lain, Camat Campaka bisa jadi sedang meratapi nasibnya.

Itulah akhir dari perseteruan antara Camat Campaka dengan Forum Ulama Campaka. Banyak pihak yang tidak menyangka, kalau Bupati bakal melengserkan orang kepercayaannya, dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Campaka adalah daerah kawasan baru, baik perumahan maupun industri. Pada 2012 kawasan itu diubah yang semula daerah hijau, untuk pertanian dan perkebunan, menjadi kawasan perumahan dan industri.

Siapapun tahu, perubahan kawasan itu identik dengan uang. Hukum ini berlaku buat siapa saja. Bahwa di kawasan baru itu bakal banyak pembebasan tanah. Dari proses itu lahirlah uang, bagi-bagi fee, baik ke calo, kades maupun Camat. Itulah kenapa penguasa kemudian menancapkan orang kepercayaannya di Campaka. Tentu motifnya jelas, ikut menikmati timbunan uang, efek dari perubahan tata ruang itu.

Ketua DPRD Purwakarta Haji Ahmad Sanusi meminta Bupati agar mendengarkan aspirasi ulama Campaka. Dan keinginan Haji Amor pun terkabul.

Tapi, hidup memang aneh. Ketika dirinya sudah melimpah ruah, menikmati dana besar itu, dan alirannya sudah ke mana-mana dan ke siapa saja, Camat Campaka membuat keteledoran yang fatal. Ia lebih memilih anti Ulama. Nyaris semua kegiatan keagamaan diabaikan. Kasusnya menjadi memuncak, ketika acara pelantikan pengurus MUI Desa se Campaka, pak Camat mengabaikannya.

Dari kasus itu, lahirnya mosi tidak percaya. Forum Ulama Campaka meminta agar Bupati mencopot sang Camat.

Anne tentu bimbang. Mencopot orang kepercayaannya bisa berarti banyak hal. Termasuk di antaranya aliran dana hasil pembebasan tanah bisa jadi seperti kemarau berkepanjangan, kering kerontang. Makanya Anne pun diam. Nyaris sebulan.

Ulama pun meradang. Kasusnya mencuat ke publik. Khalayak heboh. Di Campaka Ulama, Asatidz dan santri meradang, karena merasa dilecehkan. Di Medsos tidak kalah serunya. Pro dan kontra pun tak terhindarkan. “Ulama tidak boleh masuk ke ranah kebijakan. Itu hak Bupati. Banyak-banyak bersabar dan berdoa saja,” ujar satu komentar di Facebook.

Akhirnya, bertemulah Bupati dengan Ulama Campaka. Di hadapan para Ulama, Bupati tetap menyanjung Camat Campaka setinggi langit. Saat gempungan di Campakasari, Bupati kembali memberi angin segar ke Camat di hadapan rakyatnya.

Para Ulama sempat cemas. Bisa jadi laiknya pungguk merindukan bulan. Tapi apa lacur, paginya ternyata, Bupati memutuskan untuk menggeser Camat Campaka ke Kota. Dan menarik Camat Darangdan ke Campaka. Camat Darangdan juga loyalis penguasa. Penasehat Camat Darangdan juga Kiai di Campaka. Jadi keloplah.

Yang merana tentu mantan Camat Campaka. Ia berencana pensiun di Campaka. Tentu dengan dua tujuan. Laiknya mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sambil nunggu masa-masa pensiun, tentu pundi-pundi kantongnya bakal makin menebal.

Tapi tidak semua mimpi dan keinginan terkabul. Garis tangan sang mantan Camat memang harus berakhir. Akibat terlalu menyepelekan Ulama dan kegiatan agama. Nasi sudah menjadi bubur. Buat sang Camat jadi ngeri-ngeri sedap.

Mudah-mudahan sang Mantan Camat ini mampu menangkap sinyal, bahwa menghargai kultur keulamaan, jauh lebih penting dari siapapun. Bahwa mengabaikan Ulama itu hukumannya seketika di dunia, bahwa menyepelekan ulama itu hanya nasib sial yang mengiringi hidupnya.

Kebijakan Bupati tentu tepat. Setelah didorong oleh Ketua Dewan Ahmad Sanusi yang sempat menasehatinya agar jangan sekali-kali melawan arus Ulama.

Di dalam kultur Sunda, Ulama adalah penjaga agama. Ia mengakar di masyarakat awam. Mereka sekelompok alim yang berilmu tinggi. Dihormati di masyarakat. Ucapannya berdaging. Tindakannya selalu menjadi tauladan buat ummatnya.

Maka dari itu, pilihan Bupati tentu tepat. Dengan menjunjung tinggi apa keinginan Ulama dan membuang jauh, meskipun itu orang kepercayaannya. Ketimbang kena tulah dari Ulama yang sangat tajam doanya. Tentu Bupati tidak mau ambil risiko itu.

Damailah Bupati, tersenyumlah Ulama Campaka. Ayo ngaliwet … Ngaliwet… (PU).

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close