Head LinePemdaTajuk

KETIKA BUPATI ANNE HEAD TO HEAD DENGAN KETUA KPP

SEMULA, nyaris yang ada di benak aktivis Komunitas Peduli Purwakarta (KPP) adalah bahwa Bupati Anne Ratna Mustika tidak akan punya nyali untuk menerima permintaan audiensi LSM antikorupsi ini. Bukan apa-apa. Suami Bupati sekarang ini dengan KPP, laiknya Tom and Jerry, tarung, bersitegang dan perang urat syaraf nyaris tiap hari. Apalagi saat KPP lagi getol-getolnya membongkar berbagai dugaan korupsi Dedi Mulyadi, sepanjang DM berkuasa sampai kini.

Maka wajar saja, komentar yang muncul saat Ketua KPP Munawar Cholil tiba-tiba ngeshare surat ke Bupati itu. Di group WA “KPP Movement” pun riuh. “Gak bakal punya nyali.” “Akh mana berani Anne menghadapi kita-kita.” “Ini pak Ketu mimpinya kelewatan.”

Rasa pesimis itu wajar, karena dengan Bupati Anne, KPP memutuskan untuk oposisi permanen. Perlawanan jalan terus. Apalagi belakangan pola dan gaya Anne sama dan sebangun dengan suaminya, sang DM itu.

Jenar, pengurus inti KPP sempat mendapat pujian dari Ketua KPP. Karena di tangan Jenar, jumat pekan lalu surat sampai ke meja Bupati. Dan yang membuat kita kaget, Anne langsung memberi konfirmasi waktu, bahwa Bupati siap menerima KPP pada Kamis 1 Agustus pukul 13.00.

Pada Senin lalu, bagian protokol Bupati tiba-tiba meminta agar jadwal ketemu Bupati dimajukan hari senin. Karena mendadak, Ketua KPP dan beberapa anggota menolak, dan memutuskan tetap hari Kamis kemarin.

Pada hari H, kami sempat tegang lagi, karena jadwal jam 13.00 tiba-tiba dimajukan pukul 11.00. Kami sempat berfikir mungkin Bupati sengaja ambil waktu sempit, dekat dengan waktu sholat. Sehingga punya alasan untuk segera mengakhiri pertemuan. Sikap yang wajar. Bagi Anne, yang ada dalam benaknya mungkin bakal menghadapi orang-orang buas, antikorupsi yang tidak suka basa-basi. Karena alasan itulah, dulu, suaminya berkuasa 10 tahun tidak pernah punya nyali untuk head to head seperti sekarang ini, menghadapi KPP.

Apa yang terjadi kemudian, sungguh di luar dugaan. Anne menghadapi para pejuang KPP dengan banyak menunduk, merendah. Banyak mendengar. Yang membuat kita kaget, di awal pernyataannya Anne menegaskan bahwa dia tidak alergi dengan kritik.

“Keberadaan KPP dalam alam demokrasi itu penting. Saya siap dikoreksi kalau kebijakan saya salah. Justru berbahaya kalau tidak ada koreksi dari luar. Saya sebagai Bupati tidak alergi kritik.”

Sejujurnya saya sempat bengong. Seperti mendengar petir di siang bolong. “Haaa ….,” Kok berbeda sekali dengan sang mantan Bupati, yang kalau berhadapan dengan siapapun kepalanya banyak mendongak ke atas?

Apalagi, Anne lebih banyak membangun suasana menjadi hangat. Bahkan saat Tarman Sonjaya, Wakil Ketua KPP ambil mik dan macet, Anne serta merta berdiri membawa mik dan memberikannya ke Tarman.

Ia berulang-ulang berkata jujur apa adanya. “Saya akui ada utang ke RSUD dan belum lunas,” katanya. “APBD berat, tapi saya ambil sikap realistis, berhemat agar tidak devisit.” Sepanjang DM berkuasa, kejujuran dalam berkata-kata menjadi barang langka. Bahkan teramat langka.

Bahkan Anne sampai dua kali meminta maaf karena protokol salah menentukan waktu pertemuan. “Saya mohon maaf ada kesalahan waktu,” jelas Anne mengulang sampai dua kali.

Bagi kami, ketika Anne memutuskan menerima KPP sungguh diluar jangkauan nalar yang normal. Bukan apa-apa. Sikap ini DM pasti tahu. Dan apa benar mengizinkan? Maka dari itu berbagai spekulasi pun berkecamuk. Apa benar punya nyali?

Waktu, kini sudah membuktikan. Ibarat singa padang pasir, KPP di depan Anne tiba-tiba jadi ramah semua, laiknya mojang priangan yang gemulai. Suasana menjadi tidak setegang saat di ruang yang sama, KPP diterima Pj Bupati di masa transisi. Saat itu anggaran amburadul, devisit tembus Rp 142 miliar pada 2017 di ujung kepemimpinan DM. Dan tunggakan serta utang menumpuk di mana-mana.

Hari ini Anne ingin membuktikan bahwa Ia bukan DM, sang suami yang berkuasa nyaris 15 tahun itu. Bisa jadi Anne berani menghadapi singa-singa KPP karena bersih. Bisa jadi. Karena hanya orang bersih yang punya nyali bertemu dengan para penggila antikorupsi, tanpa beban.

Atau bisa jadi ini siasat DM untuk mengukur sejauh mana daya kritis KPP dalam memandang pemerintahan Anne. DM atau bisa jadi juga Anne mungkin ingin uji nyali, menghadapi kaum oposisi militan yang konsisten di jalan pedang; Perang terhadap korupsi ini, ternyata ngeri-ngeri sedap.

Jadi, memahami Anne sekarang menjadi gampang-gampang susah. Yang penting sekarang kita jadi tahu posisi bahwa Anne adalah Bupati yang ingin ada perbaikan di Purwakarta. Sekaligus, juga jangan lupa, Anne, apapun, adalah bagian penting dari politik dinasti yang mesti enyah dari bumi Purwakarta. Karena sehebat apapun prestasinya, dinasti tetaplah dinasti. Ia akan rakus dan buas terhadap kekuasaan.

Usai pertemuan saya wa pak ketu. “Gak nyangka Ambu punya nyali pak ketu.” Jawab pak Ketu,” Lebih gentle ketimbang DM …” Ketua Gapensi sambil berkelakar berkomentar,”Jiah sudah jelas semuanya.” Saya balas,”Lebay.” Zaenal Abidin mengirim gambar tiga wajah yang ditutup mulutnya,”Perjuangan berakhir…?” Saya jawab,”Akh …. Tidak. Perlawanan akan jalan terus …”

Apapun, keberanian Ambu menemui KPP sebagai sesuatu yang tak terduga. Intinya, bisa jadi ini langkah kecil untuk mengurai ketegangan dan salah paham yang terjadi antara penguasa dengan KPP selama ini, bahwa sejatinya oposisi KPP adalah untuk perbaikan Purwakarta yang paling mendasar. Bahwa membangun dengan cara masif tidak perlu berbanding lurus dengan korupsi yang lebih liar dan buas. (PU).

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close