PolitikTajuk

KETIKA BUPATI ANNE DIDUGA SIBUK MELAYANI SANG MANTAN

LUPA DENGAN TARGET-TARGET PENTING YANG MESTINYA MENJADI PRIORITAS

PUBLIK nyaris berdecak kagum, ketika Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika, diduga lebih suka menyibukkan diri memfasilitasi sang mantan, yang juga suaminya itu; Agar sukses menjadi anggota DPR RI.

Kalau dihitung, nyaris tiap minggu, diduga ada saja forum yang digelar untuk kepentingan itu. Dari yang berbentuk seminar, majelis taklim, temu Kades yang dikemas cantik, temu kader Posyandu, temu Tenaga Harian Lepas, dan lainnya.

Intinya, semua sumber daya yang ada, apakah itu Kepala Dinas, Sekda dan lainnya, semua mengarah dan bekerja diduga untuk kepentingan itu.

Kita bayangkan, sesibuk itu Bupati kita. Bekerja dengan mesin birokrasi, tapi patut diduga untuk kepentingan sang mantan Bupati yang juga suaminya.

Entah apa yang terpikir dalam benak Bupati. Apakah ini soal perut? Bahwa bagi sang Mantan, menjadi anggota DPR itu sebegitu pentingnya. Sehingga sumber daya politik birokrasi, diduga  fokus hanya untuk kepentingan itu?

Atau ini semata hanya untuk melanggengkan kekuasaan politik sang Mantan, sehingga perlu ada kesinambungan, setelah tumbang dalam Pilkada lalu?

Publik tentu patut geram. Karena hakekatnya, Bupati itu milik siapa saja. Bukan milik sang Mantan atau milik kroni-kroninya saja. Gagal fokus inilah persoalan mendasar yang sekarang mendera kepemimpinan Bupati kita ini.

Yang lebih miris tentu diabaikannya prioritas-prioritas pembangunan yang terlupakan. Ini tentu sangat naif. Bupati lupa bahwa ia perlu fokus habis-habisan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), ketika struktur anggaran masih belum sembuh dari penyakit kronis.

Karena, hanya dengan meningkatkan PAD, kondisi keuangan Pemkab akan pulih dan sehat. Bupati juga perlu berfikir keras, bagaimana menyiasati problem Jampis, yang meninggalkan utang ke banyak rumah sakit sebesar Rp 40 miliar.

ARTIKEL SERUPA  UANG, HAKIM PENGKHIANAT DAN TERDUGA KORUPTOR DPRD PURWAKARTA

Anne mesti juga fokus bagaimana mereview ulang tentang tata kelola rotasi jabatan yang selama ini diduga amburadul. Sistem rotasi yang berdasarkan suka dan tidak suka, mesti dikembalikan ke jalan yang benar.

Kasus Wusmin Tambunan adalah contoh di depan mata bahwa persoalan birokrasi di Purwakarta, meski sudah ganti pemimpin, persoalannya tidak kunjung reda. Masih seputar dugaan jual beli jabatan. Ini tentu sangat memprihatinkan.

Banyak pihak khawatir, saat Anne maju dalam pilkada. Thema yang berkembang saat itu adalah Dinasti vis a vis pro perubahan. Apa yang dikhawatirkan publik tentang politik dinasti, sekarang nyaris terbukti benar.

Anne mesti mereview ulang gaya memimpinnya. Ia mesti sadar bahwa sebagai Bupati ia bukanlah hanya milik keluarga dan kroninya. Tapi Ia mesti sadar bahwa Bupati itu milik siapa saja, termasuk milik lawan-lawan politiknya.

Ibu Bupati, segeralah kembali ke jalan yang benar dan lurus. Biar kepemimpinan anda itu berkah. Wallahu a’lam.

Tags

Related Articles

Beri Komentar :

Your email address will not be published. Required fields are marked *