Head LineKomunitasPemdaTajuk

INGKAR JANJI BUPATI ANNE, DAN PERLAWANAN PARA MANTAN RELAWAN

SAKIT hati itu ketika di PHP oleh penguasa. Saat berjuang berjibaku demi kemenangan sang calon, tapi usai meraih kemenangan para relawan itu pun dibuang bak seonggok sampah yang tiada guna. Itulah gambaran yang sekarang terjadi di Purwakarta. Bupati Anne Ratna MustIka yang cantik itu secara sistematis membersihkan bekas relawan dan timsesnya. Tidak tanggung-tanggung, Panglima perangnya pun disingkirkan.

Kini sedikitnya 70 relawan inti berhimpun. Mereka sekarang rajin menggelar rapat. Pasukan sakit hati ini akan bergerak menggelar demo untuk tujuan yang sangat ‘radikal’ menurunkan Bupati dari jabatannya. Ekspresi yang wajar dan manusiawi.

Mereka tentu geram dan bimbang sekaligus. Geram karena mereka merasa dikadali. Bimbang karena apapun dulu sang Bupati adalah harapan masa depannya. Cuma mereka lupa bahwa politik itu buas dan biadab. Politik itu laiknya seorang psikopat yang tega memutilasi korban sambil orgasme. Sadis dan bengis.

Sekelompok relawan ini terlalu lurus dan apa adanya memahami politik. Akibatnya, ketika di PHP oleh Bupati perasaan stress dan putus asa mendera mereka. Harapan untuk bisa menikmati kue kekuasaan sirna. Kegeraman mereka makin membuncah, ketika mereka tahu bahwa sekarang di lingkaran Bupati banyak semut yang tidak berkeringat tapi sekarang ikut menikmati manisnya kekuasaan. Wajar kalau sekarang mereka geram dan marah.

Pemimpin yang tidak dilandasi nilai-nilai kebenaran, maka Ia akan cenderung ingkar janji (Nilai Identitas Kader (NIK) HMI). Dan bagi para relawan Bupati, fenomena ingkar janji Bupati sudah terbukti. Dulu saat berjuang ada yang dijanjikan akan diangkat jadi ASN, akan diberi proyek bahkan dijanjikan sejumlah uang. Tapi sekarang buat para relawan janji tinggallah janji, kini mereka menikmati pepesan kosong.

Bupati lupa bahwa para relawan inti itu ada bergerbong-gerbong pengikutnya. Sebut saja Lalam Martakusumah dengan AMS-nya, ada Dadan Koswara mantan Ketua Timses, ada juga Burhan Fuad yang saat menentukan dukungan kepada pasangan Anne begitu gegap gempita. Dan beberapa relawan inti yang ada di lingkaran satu Bupati saat itu. Tentu ini miris dan menyakitkan.

Bupati telah meletakkan suasana disharmonis di antara warga Purwakarta. Mengingkari janji-janji kepada para Timses sama saja dengan menanam dan memupuk rasa kebencian kolektif bagi para timsesnya. Ini tentu berpotensi mengganggu stabilitas pemerintahan Anne.

Tapi sesungguhnya, dari aspek Anggaran, langkah Bupati Anne tidak salah. Anggaran Pemkab Purwakarta ini belum sehat betul. Masih sakit-sakitan. Kekuatan anggaran APBD untuk berbagi dengan sebegitu banyak relawan pasti jebol. Maka langkah yang realistis ya lupakan dan buang para relawan itu. Tapi risikonya tentu tidak kecil buat Bupati. Setidaknya cap sebagai Bupati yang ingkar janji telah menempel di kening Bupati Anne. Kondisi ini tentu mengurangi kewibawaan dia sebagai Bupati. Rasa hormat masyarakat terhadap Bupati mulai mengikis. Dan bagi para lawan politiknya, kondisi ini menjadi bahan tertawaan di kalangan mereka.

Itulah politik Purwakarta hari ini. Suhu akan terus memanas. Apalagi, kebijakan Bupati sering memicu kontroversi. Ini tentu bisa jadi bahan peledak yang ampuh buat para relawan yang sakit hati itu. Sebagai rakyat biasa ayo kita nikmati drama kehidupan yang bakal seru ini antara Bupati Anne VS para relawan yang sakit hati.(KDR).

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *