FeaturesHead LineWisata

INDRA LESMANA : “SEMOGA FESTIVAL JAZZ INI MAKIN NGEJAZZ …”

REFLEKSI DARI "THE FIRST INTERNATIONAL JATILUHUR JAZZ FESTIVAL"

Oleh : Guntoro Soewarno, JazzLover Purwakarta

LEGENDA JAZZ INDONESIA KRAKATAU

Pernyataan Indra Lesman, personil inti dari Krakatau Jazz Band disampaikan dengan datar dan senyum khas Indra. “Sukses untuk festival ini, semoga makin ngejazz.” Indra tampak menyampaikannya dengan dingin. Ia sempat tersenyum ragu, ketika mungkin menyadari pernyatannya terlalu satir.

Tapi sejujurnya, bagi JazzLover maniak sangat paham ke mana arah Indra mengeritik. Dua hari aku tenggelam dalam festival Jazz ini, memang warna Jazznya masih gado-gado campur buah. Rasa dan warnanya jadi tidak jelas.

Mengawinkan Zaskia Gotik dengan Jazz tentu tidak banget gitu loh. Apalagi, Zaskia terlalu PD dan enggan atau memang gagal, menyesuaikan warna dangdutnya dengan para Jazzlover. “Kehadiran Zaskia membuat antiklimaks. Mestinya dia menyesuaikan,” tutur Ali Makad Penikmat Seni yang intens mengikuti Festival Jazz ini.

Indra, yang penampilannya sungguh sedehana –Baju biasa, lengan panjang warna biru muda, dengan tetap kancing paling atas dibuka. Dan ini yang khas dari Indra, sedikit rambut di depan disisir mendongak ke atas– tentu punya standard tinggi soal Jazz. Buat dia tentu Festival Jazz ini belumlah ngejazz betul. Termasuk tampilnya Ita Purnamasari, yang langsung menyentak dengan warna rocknya. Langsung menurunkan selera, membuyarkan nuansa Jazz yang sudah terbangun oleh musisi Jazz sebelumnya.

Intinya gado-gado. Wajar kalau Indra berujar,”Semoga makin ngejazz.”

KRAKATAU WOOO YEEEE …¬†

TRI UTAMI TAMPIL LINCAH DAN MENDEBARKAN

Lepas dari urusan belum Ngejazz betul, tapi okelah …. Para JazzLover terbayar oleh penampilan Krakatau Jazz Band. Ini seperti kita lagi jalan di padang pasir yang meranggas, lelah berkeringat dan panas, tiba-tiba nemu Pepsi Cola yang dingin dan segar. Terbayar lunas, tuntas… Tas… Tasss.

Siapa tidak merinding, ketika Krakatau menampilkan personelnya dengan lengkap. Dua pendekar Jazz Indonesia, Indra Lesmana dan Dwiki Dharmawan berhadap-hadapan memegang Keyboard laiknya mau adu jurus, siap tempur habis-habisan menyuguhkan ketrampilan tingkat dewa, bagaimana dua legenda ini bermusik.

Aku semula berharap, Krakatau akan tampil penuh dengan membawa dua Drumernya, ternyata cuma satu Gilang Ramadhan …. Hmmmm …. Tapi, percayalah, drum di tangan Gilang sama saja dengan seribu seratur drumer yang tampil bersamaan. Nama Gilang sudah begitu susah dilawan oleh draumer manapun.

Siapa yang tidak mengenal gitaris gaek Krakatau Donny Suhendra. Hanya dia yang sudah nampak tua, dengan Kepala makin botak. Kekuatan melodinya masih prima dan sangat detail. Gitar di tangan dia laiknya mainan anak-anak yang dikendalikan anak remaja, sangat lihai dan menghibur.

Basis juga masih personil lama Pra Budi Dharma. Dan Krakatau makin berwarna ketika Tri Utami yang kecil mungil tampil dengan prima dan suara yang melengking terjaga.

Menikmati Krakatau Jazz Band seperti membaca novel “Naga Sasra dan Sabuk Inten karya SH Mintardja. Setidaknya, keduanya sudah sama-sama melegenda. Sejak awal seru, menggetarkan, puas, dan daya magisnya tidak berubah secuilpun. Soal ketrampilan mereka yang makin brutal juga tetap sangat enak untuk dinikmati.

Maka wajar kalau JazzLover yang hadir dan makin membanjir terus menggemuruh, riuh riang, dan meminta agar pementasan mereka jangan disudahi sampai pagi.

Malam itu Krakatau tampil dengan sangat matang. Tidak hanya bagaimana mereka memainkan musik Jazznya. Tapi penampilan mereka jadi sangat renyah, banyak banyolan ala Gilang dan gaya Tri Utami yang masih prima. Tentu kecuali Indra, yang selalu tampak serius, dengan senyumnya yang canggung dan khas.

Tri Utami, bagai kelinci yang lincah terus menggempur dengan lagu-lagu hit khas Krakatau. Lagu “Ratu Pesta” benar-benar sukses di bawakan khas Tri Utami banget.

Suasana makin seru karena Indra dan Dwiki terus bersahut-sahutan berbalas keyboard, laiknya pertarungan antara Mahesa Jenar dengan Ki Pasingsingan, di ujung cerita Kiai Naga Sasra. Seru, saling berbalas, beradu jurus  yang rumit dengan ritmik yang melengking, merendah, kuat, cepat saling berbalas. Dan Indra-Dwiki beradu musik dengan raut wajah saling lempar senyum. Seolah saling tidak mau kalah untuk memuaskan dahaga JazzLover.

Itulah Krakatau, tampil dengan makin dewasa, matang dan renyah. Penikmat Jazz sungguh, benar-benar dibuat tenggelam dalam bahasa Indra,” Benar-benar ngeJazz.”

JAZZ UNDERGROUND ALA 57KUSTIK

Tampilnya 57Kustik asal Bandung juga keren banget. Menikmati bagaimana anak muda hasil didikan Hari Roesly (Alm) ini aku sempat lama berfikir keras, soal aliran Jazznya.

Warna Jazznya sangat asing. Tapi keberanian mereka memadukan antara gitar sting, biola dan bass sungguh luar biasa. Ketika mereka membawakan lagu berjudul “Orang Basah” yang syairnya hanya “Orang basah … Basah kering …” Terus di ulang-ulang, kesimpulan Aku jadi sederhana, inilah model Jazz Underground ala kang Hari Roesly.

57KUSTIK KUAT DIMELODI DAN BIOLA, EKSPERIMEN MUSIK JAZZ LANGKA

Tapi sungguh, keberanian mereka memadukan gitar sting dengan biola dengan ritme cepat dan tinggi tanpa ada kesalahan secuilpun, memunculkan decak kagum dan tepuk riuh Jazzlover.

Bandung untuk urusan musik memang susah dilawan.

LEBIH NGEJAZZ

Publik tentu mengapresiasi sangat tinggi terhadap festival Jazz di Jatiluhur ini. Mereka tentu berharap ini jadi agenda rutin yang bakal mengerek nama Jatiluhur dan Purwakarta bakal makin mendunia.

Tapi sungguh, satir dari Indra Lesmana,”Semoga makin ngejazz”, mesti menjadi catatan penting PJT 2 dan Dwiki Dharmawan’s Management agar festival tahun depan “benar-benar ngejazz.”

Kita mesti PD, bahwa Jazz adalah satu aliran musik yang keren dan sangat eksklusif. Makanya, tidak usahlah minder sampai mengawinkan antara Jazz, Rock dan Dangdut.

Jazz adalah Jazz. Ia punya jalan pedang sendiri, punya kamar sendiri. Ia adalah kehidupan itu sendiri, yang tidak sama dengan genre musik lainnya. Jazz yang aku kenal adalah produk intelektual yang sangat kuat. Ia produk kecerdasan bermusik. Maka ketika Jazz dikawinkan dengan dangdut, aku merasa sedang minum Pepsi Cola yang dingin, segar, bertenaga, tapi ya itu, seperti dicampur dengan sesuatu yg membuat tidak sreg. …. fuih … jadi … Nyebelin banget. (KDR).

 

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *