BisnisHead LineOpini

IMPERIUM DUNIA BARU ITU BERNAMA CHINA

BAGAIMANA DENGAN POSISI INDONESIA?

 

Oleh : Fauzi Aziz, Alumni Undip, Mantan Dirjen IKM Deperindag, Pemerhati Ekonomi dan Industri

FAUZI AZIZ

ONE State Two System telah mengantarkan China sebagai negara Asia yang pandai menghebatkan dirinya melalui proses revolusi, reformasi. dan pembelajaran tiada henti. Hasilnya, China kini telah bertransformasi menjadi sebuah Imperium baru di abad ini di bidang ekonomi, sains dan teknologi, bahkan dalam bidang militer.

Negeri Kung Fu Panda tak ubahnya seperti kerajaan yang pusatnya selalu diuntungkan atas kerugian di negara-negara yang sekarang menjadi mitra dagangnya. AS bisa dibuat susah oleh China dan luapan kompensasinya adalah perang dagang.

Dalam konstruksi Inisiasi Belt and Road ( IBR), negara-negara yang masuk dalam jaringannya pada enam koridor ekonomi pada dasarnya dapat dipandang sebagai negara-negara pinggiran (periphery), dan China sebagai pusat pengendali dalam kedudukannya sebagai ” HOLDING STATE” yang super kaya dan super kuat. Ia akan mampu mengontrol negeri-negeri pinggirannya kibarat sebagai Strategic Business Unit (SBU).

Negeri-negeri tersebut adalah sebagai pusat-pusat investasi, industri/produksi dan distribusi barang dan jasa serta pusat layanan smart factory, Pusat big data dan pusat LoT  untuk memenuhi kebutuhan pasar regional dan global di saat bersamaan.

Penduduk mereka di China daratan dan keluarga dinasti Han yang tersebar di berbagai belahan dunia sebagai China perantauan dapat bermigrasi ke mana arah investasi China di berbagai bidang akan dilakukan.

Negeri dengan predikat Kung Fu Panda juga telah menjelma menjadi Pusat kerajaan Sistem Kapitalisme Global yang sangat likuid, sehingga karena itu, pada dirinya telah menyandang gelar sebagai pemasok, investor, kreditor, dan bankers untuk para konsumen se dunia.

Sebuah data tentang kekuatan belanja penduduk Asia golongan kelas menengah diramalkan akan spending sekitar USD 32 triliun pada 2030. Yang perlu dicatat adalah bahwa 2,5 triliun dolar akan di spending oleh golongan kelas menengah Indonesia. Halo the big size market ada di wilayah Asia belum lagi di bentangan kawasan lain di dunia.

Sistem tersebut tentu sangat menguntungkan modal uang, dan China memilki itu yang bebas mengalir ke negara-negara periphery sebagai kredit konsumsi, kredit modal kerja dan kredit investasi, sampai kemampuannya untuk melakukan akuisisi dan merger.

Tidak heran jika kelak mata uang yuan akan mengganti kedudukan dolar AS, di mana yuan sendiri oleh IMF sudah diendors sebagai mata uang internasional yang kuat untuk menjadi MODA transaksi internasional dalam kegiatan investasi dan perdagangan global.

Boleh jadi sebentar lagi IMF bukan lagi dipimpin oleh orang Eropa tapi dari orang China. Sebagai penyandang dana, China tentu akan menarik manfaat maksimal secara ekonomi dari pendapatan investasi, bunga, deviden dan keuntungan lain yang pada akhirnya China akan semakin kuat sebagai pusat keuangan global yang berpengaruh.

Selama perputaran modal China aktif dan terus menyebar ke sendi-sendi kehidupan ekonomi di negara-negara periphery, maka ia berpotensi akan mengalahkan modal nasional dan modal nasional akan ter-internasionalisasi atau ter-akuisisi. Angka suku bunga, nilai tukar mata uang dan harga saham di pasar modal mungkin akan lebih dikendalikan untuk menciptakan stabilitas ekonomi, sosial dan politik di kawasan. Karena bila terjadi ketidak stabilan ekonomi kawasan bisa bar ji ba beh alias bubar siji bubar kabeh.

Boleh jadi pada waktunya akan terjadi kerjasama dan kolaborasi antar bank sentral di Asia untuk menjaga stabilitas ekonomi dan moneter di kawasan Belt and Road.

BAGAIMANA MASA DEPAN INDONESIA

Bagaimana dengan posisi Indonesia. Dilihat dari peta geopolitik dan geoekonomi secara de facto dan de jure, Indonesia telah menjadi bagian dari pusat pertumbuhan ekonomi di area belt and road. Karena Indonesia telah menjadi salah satu anggota club tersebut, sejak ikut menjadi salah satu penanda tangan pembentukan AIIB.

Secara geopolitik tidak bisa dihindari jika ada yang berpendapat bahwa poros Jakarta-Beijing telah terbangun kembali karena adanya Belt and Road.

Indonesia tetap harus menjadi negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Karena itu, politik bebas dan aktif harus ditegakkan untuk menjaga kemerdekaan dan kedaulatan politik, ekonomi dan budaya. Sebagai perimbangan, maka hubungan timbal balik antara Indonesia dan AS harus tetap terjaga dan terpelihara dengan baik.

Pergerakan modal, teknologi dan manusia ke negara-negara periphery pasti akan menjadi pusat perhatian AS. Misalnya terjadi transhipment ekspor atau relokasi industri akan diamati terus menerus. Sehingga ketika barangnya di ekspor ke AS dan menimbulkan tekanan neraca perdagangannya, tindakan unilateral berupa retaliasi akan dikenakan kepada negara yang membuat neraca dagang AS defisit berkelanjutan. Karena kita tahu AS memiliki senjata super 301.

Namun demikian kalau kita berpegang pada ramalan Goldman Sachs, maka lokomotif ekonomi dunia tidak hanya China sendirian. Karena masih ada AS (2),India (3), Brazil (4), Mexico (5), Russia (6), Indonesia (7), Jepang (8), Jerman (9), dan Inggris (10).

Perimbangannya masih bisa dibentuk, sehingga Indonesia tetap harus membangun strategi dengan banyak mitra daripada membangun poros special, misal dengan China saja atau AS saja.

Kesiapan strategis adalah kunci keberhasilan paling utama negara manapun. Dan dalam hubungan ini, maka pemerintah adalah yang pertama dan terutama harus bekerja keras untuk menciptakan suatu lingkungan guna mendukung peningkatan produktifitas. Tanpa produktifitas yang tinggi is nothing untuk menjadi top ten dalam kekuatan ekonomi global. (PU).

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *