BisnisHead LineTajuk

IBU BUPATI, ALASAN APA, ANDA MASIH MEMPERTAHANKAN DIRUT PDAM?

TIAP TAHUN DISUNTIK MILIARAN RUPIAH, PERTUMBUHAN BISNIS PDAM TIDAK SIGNIFIKAN

PUBLIK tentu menginginkan PDAM Purwakarta adalah satu entitas bisnis yang tumbuh signifikan, kokoh, ada cashnya dan sustain. Tapi dalam rentang 10 tahun terakhir, PDAM ini laiknya siput yang berjalan lamban, tertatih-tatih dan nyaris tidak ada yang bisa dibanggakan.

Buat APBD, institusi PDAM ini seperti pasir penghisap yang rakus. Tiap tahun menyedot anggaran, tapi dari pertumbuhan aset dan cash, nyaris tak terdengar.

WARGA MESTI ANTRI UNTUK MENDAPAT JATAH AIR

Kalau kita mengacu pada hasil audit BPK pada 2017, ada aset dalam bentuk jaringan pipa senilai Rp 16 miliar tidak dibukukan oleh Bupati. Kenapa ini bisa terjadi? Mudah saja jawabannya. Bisa jadi proyek yang di atas kertas nilainya Rp 16 miliar, pada kenyataannya bisa diduga itu proyek fiktif. Maka dari itu saat dilakukan pencatatan sangat sulit untuk dibuktikan.

Nilai aset Rp 16 miliar tentu tidak kecil. Tapi mestinya, skandal aset PDAM ini ditelisik dengan sungguh-sungguh. Karena pada kasus ini, pada neraca PDAM tertulis adanya tambahan aset Rp 16 miliar. Tapi pada neraca keuangan Pemkab tambahan aset ini tidak tercatat.

Bagaimana dengan soal kualitas layanan ke publik? Kita sering merasakan penderitaan masyarakat akibat ulah PDAM. Warga Gandasari pernah tersiksa berbulan-bulan akibat aliran PDAM seperti tetesan embun dipagi hari. Tidak usahlah bicara soal Gandasari yang jauh itu.

Di jalan utama Veteran saja, sudah banyak warga yang enggan berlangganan PDAM. Di Perumahan Dian Anyar sama saja. Air mengucur deras hanya saat malam hari, tatkala orang lagi terlelap tidur. Dan ini terjadi sudah puluhan tahun.

Lalu di mana biang keroknya? Jawabannya tentu sederhana. Pertama, tentu kita lihat pemimpinnya. Dirut PDAM sekarang sudah menjabat hampir dalam rentang waktu yang kelewat lama, 10 tahun. Nyaris tanpa evaluasi. Ini terjadi karena, Dia masih satu keluarga dengan penguasa. Jadi bagaimana cara mengevaluasi dengan pendekatan bisnis?

Kedua masalah tata kelola yang bisa dipastikan tidak pernah menggunakan standar bisnis laiknya sebuah bisnis. Karena itu, PDAM ini penyakitnya nyaris sama; Menjadi monopoli produk tapi tidak pernah untung secara signifikan. Ini penyakit badan usaha pelat merah pada umumnya.

Ketiga, banyak cerita tidak sedap terhadap berbagai dugaan bahwa selama ini PDAM tidak pernah sehat akibat jadi “sapi perahan” oleh tangan-tangan politik kekuasaan yang butuh modal besar untuk membangun citra. Wajar kalau tidak pernah untung. Satu keluarga tertentu juga seperti penjadi penguasa tunggal di situ. Tentu ini aneh bin ajaib.

Publik tentu menginginkan penyakit PDAM tidak terus menerus berulang. Ini masuk tahun kedua Bupati Anne menjabat. Kalau Dirutnya masih dipertahankan dengan gaya lama, maka kebangkrutan PDAM itu tinggallah menunggu waktu. Nasibnya akan sama dan sebangun dengan RSUD Bayu Asih, yang tahun ini kelojotan, meski sudah dibanjiri uang Rp 110 miliar.

Karena itulah, sebelum nasi menjadi bubur, Bupati mesti fokus habis-habisan bagaimana PDAM sehat. Untuk menyehatkan PDAM secara bisnis, esensinya gampang. Kuncinya hanya tiga. Pertama, ganti Dirutnya. Kedua, laksanakan syarat pertama. Ketiga, segera eksekusi langkah kedua. (PU).

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *