BisnisHead LinePemda

DINAS BINA MARGA TOLAK PERMINTAAN KMP SOAL DOKUMEN MANAJEMEN PROYEK JEMBATAN BODEMAN

KMP AJUKAN GUGATAN HUKUM KE PENGADILAN DAN SIAPKAN BANYAK BUKTI KUAT

PURWAKARTA (eNPe.com) – Dinas PU, Bina Marga dan Pengairan Pemkab Purwakarta, menolak permintaan Komunitas Masyarakat Purwakarta (KMP) terkait dokumen manajemen proyek jembatan Bodeman. Menurut satu pejabat, penolakan ini terkait kekhawatiran terjadinya hambatan terhadap upaya Dinas mencari penyebab robohnya jembatan itu.

Kepala Dinas PUBMP Pemkab Purwakarta Ryan Octavia menyatakan itu kepada eNPe.com melalui saluran whatsapp hari ini (6/5/20). “Tapi agar lebih jelas silahkan datang saja ke kantor, karena biar tidak ada salah paham,” jelas Ryan.

“Jadi sistem Armco ini pengerjaannya tidak boleh sembarangan. Tanah timbunan harus jadi pengikat struktur. Kalau di tanah timbunan ini ada persoalan maka gaya pengikat pada jembatan hilang.” (Mantan Kabid Bina Marga di Dinas PUBMP Kokon Zarkoni).

Sementara itu, Ketua KMP Zaenal Abidin memutuskan untuk segera mengajukan gugatan hukum terhadap penolakan ini. “Ini bukti mereka ada konspirasi besar untuk melindungi sekelompok orang,” jelas Zaenal.

Menurutnya, bakal ada kejutan besar terhadap gugatan yang akan diajukan. “Mereka ceroboh. Kita ini tidak bodoh dan semua kemungkinan sudah kita hitung,” jelasnya.

Zaenal menambahkan, pihaknya sangat merasakan ada upaya penggiringan opini publik bahwa jembatan itu roboh karena faktor alam. “Dengan begitu maka kontraktor lepas dari tuntutan apapun,” jelas Zaenal.

Sementara, menurut ZA, kajian yang dilakukan KMP dengan Tim Ahli Jembatan dari ITB menemukan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan teknis konstruksi yang menyebabkan jembatan itu roboh.

“Kita akan melakukan perlawanan terhadap segala rekayasa yang sedang mereka siapkan. Dan kami optimistis kalau kita bakal menang,” jelas Zaenal.

Bukti-bukti kuat yang dimiliki pihaknya, menurut Zaenal, akan terkonfirmasi oleh dokumen manajemen proyek yang sampai sekarang masih disembunyikan oleh Dinas. “Maka dari itu biar hukum yang memerintahkan mereka untuk membuka,” jelasnya.

Sebelumnya, konstruksi jembatan Bodeman yang baru berumur lima tahun roboh total. Kasus ini sampai memakan korban. Satu orang meninggal dunia dan empat lainnya luka-luka.

Jembatan Bodeman ini dibangun oleh CV Karya Indah milik Mamat Bangbrang. Tapi pengerjaannya diduga oleh Asep Betel. Jalan penghubung antara Cikopo dengan Cibatu ini, dibangun pada 2015 dengan nilai proyek Rp 1,8 miliar.

PENJELASAN MANTAN KABID BINA MARGA

Sementara itu mantan Kabid Bina Marga Pemkab Purwakarta Kokon Zarkoni, menyatakan bahwa baik aspek perencanaan maupun pengawasan dilakukan secara internal. “Jadi tidak menggunakan konsultan,” jelas Kokon.

Kokon adalah pejabat di Dinas PUBMP saat tender jembatan Bodeman itu digelar pada 2015 lalu.

Pada 2015, ujar Kokon, jembatan Bodeman yang melintasi Kali Ciherang Buntu memang diperbaiki. Bangunan lama, menurut Kokon,”Menggunakan sistem Box Culvert ukuran 2 x 4 x 2 meter. Dan kondisinya amblas.”

Pada jembatan baru ini, menurut Kokon, menggunakan sistem Armco, jenis multy Plate Super Span, Low Profile Art. “Ini model busur setengah elips, produksi PT Cahaya Metal Perkasa di Cikarang. Ini perusahaan punya reputasi bagus,” jelas mantan Sekdis Dinas PUBMP ini.

“Cara berfikir para pejabat itu mestinya dibuat sederhana. Ini ada jembatan yang mestinya berumur 25 tahun, baru lima tahun sudah hancur. Pasti ada masalah. Dan ini dugaan korupsinya kuat,” jelas Ketua KMP Zaenal Abidin.

Kokon menambahkan, model Armco ini memang terdiri banyak sambungan plat. Antar plat disambung oleh satu mur/baud. “Kita menggunakan ini sesuai standard PU, yang tercantum dalam buku Panduan Pipa Baja Bergelombang tahun 1995,” jelasnya.

Menurut Kokon, dari proses pemasangan, penyambungan lempengan plat sampai penimbunan disupervisi oleh PT Cahaya Metal Perkasa. “Jadi proses pemasangan tidak boleh sembarangan. Misalnya timbunan tanah di atas struktur Armco, itu harus menjadi pengikat struktur. Harus dalam keadaan seimbang kanan kiri. Timbunan tanah itu menggunakan bahan dari sirtu,” jelasnya.

Maka dari itu, menurutnya, timbunan tanah ini harus stabil. “Sekali saja ada pergeseran, maka keseimbangan gaya pada struktur akan hilang,” jelas pejabat yang sekarang aktif di Inspektorat Pemkab Purwakarta ini.

Persoalan ini muncul, menurut Kokon, berdasarkan informasi dari Dinas, mulai ada pegeseran pada awal 2020. “Saat itu terjadi banjir besar, sampai merendam struktur timbunan di sisi kiri sebelum jembatan, kalau dilihat dari arah Cikopo,” jelasnya.

Saat itu, menurutnya, mulai terjadi longsoran. “Maka dari itu kemudian dipasang bronjong. Setelah pemasangan itu efeknya sisi kanan jalan, kalau dari arah Cikopo tertekan dan ikut longsor,” jelas Kokon.

Bangunan ini, menurutnya, saat perencanaan sebenarnya sudah memperhitungkan risiko banjir. “Standard yang kita pakai, air maksimal setinggi 1 meter di bawah lengkungan Armco,” jelasnya.

Jadi, menurut Kokon, saat terjadi perdeseran, bagi yang tahu struktur armco, sebenarnya kondisi jembatan sudah berbahaya. “Karena kesetimbangan stuktur sudah tidak ada,” jelasnya.

Maka dari itu, kalau kita lihat proses kejadiannya, proses sampai ambruk membutuhkan waktu dua jam. “Sebenarnya saat itu mestinya sudah tidak boleh ada yang melintas. Tapi ya susah itu jalan vital,” jelasnya.

Terkait pengerjaan proyek, ketika ditanya apakah pihaknya tahu kalau proyek itu dikerjakan bukan oleh pemenang tender? Menurut Kokon, membangun jembatan itu pekerjaan alat berat. “Dan setahu saya memang menggunakan alat berat Asep Betel. Tapi saya tidak tahu apakah itu berarti keseluruhan proyek dikerjakan oleh Asep Betel,” jelasnya.

Kokon menyatakan, sebagai Kabid kepentingan saya sederhana,”Proyek selesai tepat waktu dan bisa digunakan,” jelasnya.

Menanggapi pernyataan Kokon, Zaenal Abidin dengan enteng menyatakan, plat untuk Armco yang disambung hanya oleh satu mur, menurut tenaga Ahli ITB yang dipakai KMP, punya standard berbeda. “Menurutnya, kalau digunakan dua mur maka tidak akan terjadi amblas. Ini justru penyakit utama,’ jelasnya.

Zaenal menantang, kalau mereka merasa benar, buka saja dokumen manajemen proyek. “Dari situ kita bisa runut dari perencnaan, DEDnya, dari proses pembangunan konstruksi, sampai pemeliharaan. Akan ketahuan di mana problemnya. Mereka pada ketakutan membuka ini,” jelasnya.

Pihaknya meminta agar cara berfikirnya disederhanakan. “Ini ada struktur jembatan yang mestinya umurnya 25 tahun, baru lima tahun sudah hancur total. Ini pasti ada masalah,’ jelasnya.

Terkait struktur timbunan, Zaenal juga menegaskan kalau timnya juga menemukan kesalahan fatal. “Kami sudah kaji kalau timbunan itu mesti bersungsi sebagai pengikat struktur. Tapi yang mereka lakukan justru sebaliknya,” jelas ZA.

Menurutnya, pada struktur timbunan ada pelanggaran SOP yang serius. “Tapi ini kami buka nanti di pengadilan sebagai barang bukti. Dan kami banyak menemukan barang bukti lain yang membantah bahwa robohnya jembatan bodeman akibat bencana alam. Ini murni dugaan korupsi berjamaah,” tendas ZA. (bay/PU).

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close