BisnisHead LineTajuk

DEDI MULYADI, TAJUG GEDE CILODONG DAN RINTIHAN MEMELAS TUKANG BANGUNAN YANG BELUM DIBAYAR ITU

HARI-HARI ini redaksi eNPe.com mendapat pengaduan yang bertubi-tubi, sekelompok kecil Tukang Bangunan yang mengerjakan proyek di Tajug Gede Cilodong. Mereka menjerit, merintih, meminta agar upahnya segera dibayar. “Sudah empat bulan, janji-janji terus. Kami lagi lapar dan susah,” desah satu tukang itu.

Mereka mengaku bekerja di bawah CV Dina Faja. Para tukang itu mengerjakan emplacement yang sekarang sudah menjadi lahan parkir, di Tajug Gede Cilodong itu.

Nilai proyeknya Rp 1,8 miliar. Ini adalah bagian dari anggaran Hibah Bupati kepada satu institusi TNI di Sadang pada 2019. Belakangan bentuk pekerjaannya adalah emplacement itu. Salah satunya. Total Hibah itu mencapai Rp 9,5 miliar.

“Kasus ini tentu menyisakan banyak pertanyaan, kenapa kontraktor tidak kunjung mampu membayar upah tukang bangunan itu? Padahal dari Pemkab sudah dibayar lunas? Apa ini pertanda bahwa proyek ini patut diduga adalah proyek bancakan banyak pejabat?”

Kita tentu menjadi sangat miris dengan skandal pengupahan ini. Kita sebut skandal karena dari Pemkab Purwakarta, menurut satu pejabat yang bertanggung jawab soal proyek ini sudah dibayar lunas.

Pertanyaannya, kenapa sampai sekarang masih ada tunggakan? Baik upah tukang bangunan maupun suplier bahan bangunan? Kasus ini menjadi menjijikan karena menyangkut institusi Tajug Gede Cilodong, proyek mercusuar Bupati Anne Ratna Mustika dan Ketua DKM-nya adalah anggota DPR RI yang juga mantan Bupati yang super keren; Dedi Mulyadi.

Upah pekerja, kata Rasulullah, bayarlah sebelum keringatnya mengering. Rasanya sangat memalukan proyek mercusuar itu menyisakan getir dan nestapa bagi para tukang bangunannya.

Yang membuat kita geram dan tidak habis pikir adalah sikap Ketua DKM-nya yang seolah membiarkan kasus ini berlarut-larut. Pada sisi, yang nyaris bersamaan dengan penderitaan para tukang bangunan itu, Ketua DKM begitu sibuk membagi-bagi sembako tiap malam, menemui pengemis di pinggir jalan, mengecek orang miskin, mendatangi petani yang baru pulang dari sawahnya.

Dan ini yang penting, dalam setiap pertemuan itu, sang Ketua DKM memberi bingkisan yang super mewah, plus uang. Tentu ini parodi yang sangat kontras. Paradoks kehidupan yang kelewat lebay.

Sebenarnya, Dedi Mulyadi bisa dengan mudah memanggil kontraktor dan memaksanya untuk segera membayar hak rakyat kecil yang kesusahan itu. Sebagai Ketua DKM, dia punya kewenangan dan tanggung jawab moral dunia dan akherat, alam semesta, laut dan gunung, perbukitan dan lembah, ngarai sampai tepian pantai, untuk menyelesaikan tunggakan yang memalukan itu.

Kasus ini sudah pernah diangkat media ini dua bulan yang lalu. Tapi entah kenapa, laiknya para kerumunan kontraktor yang menyebalkan itu, kasus ini ternyata berkepanjangan.

Wabah Corona membuat banyak sekali orang kesusahan. Yang miskin tambah miskin, yang mau naik kelas, jatuh miskin lagi.

Publik tahu, buat kang DM, menalangi kekurangan pembayaran sekitar Rp 80 juta tentu kecuwilll banget. Tapi entahlah, apa yang menyebabkan kasus yang memuakkan ini terus berlarut-larut. Dan bagi para pekerja, dan suplier, angka Rp 80 juta tentu sangat besar.

Kasus ini tentu memicu berbagai pertanyaan. Kenapa kotraktor tidak kuat membayar upah. Padahal sudah dibayar lunas pula. Apa ini karena uang proyek ini mengalir ke mana-mana? Laiknya air got yang meluncur mengular, bau dan menjijikkan?

Redaksi media ini tentu sangat berharap, sudah saatnya Dedi Mulyadi turun tangan menuntaskan skandal ini dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Karena kami yakin uang itu akan dipakai untuk lebaran.

Berhentikan membangun citra diri dengan membagi-bagi sembako dan bingkisan mahal. Tanggung jawan di depan mata itu kongkrit dan jelas; Bayar tuh para tukang bangunan yang sudah lapar, melolong-lolong laiknya Srigala malam di hutan Pesawahan. Hmmmm …. sungguh menyebalkan …. (KDR).

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close