Head LinePolitikTajuk

DEDI MULYADI, SIAPAKAH ANDA GERANGAN?

INSIDEN Dedi Mulyadi mengusir wartawan yang lagi meliput di acara Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) sungguh ironi di tengah situasi politik Pilpres yang lagi panas. DM, sapaan akrab Dedi, tidak hanya menunjukkan arogansi yang berlebihan, tapi juga satu ironi demokrasi yang gagal ia pahami. Ini kejadian yang susah dinalar oleh akal sehat.

“Saya tidak mengundang anda. Saya tidak kenal anda. Saya tidak butuh wartawan. Ini acara internal,” itu umpatan DM ke reporter newspurwakarta.com. Satu-satunya reporter yang berani melawan arogansi yang dipertontonkan Dedi, di saat 10 wartawan lainya ngacir, karena ngeper oleh gertakan Dedi.

Reporter ini melawan, karena ia paham bahwa tugas jurnalistik itu dilindungi UU. Ia juga tahu bahwa itu acara dinas dan ada unsur kepentingan publik. Ia juga paham bahwa atas nama kebebasan pers, tidak ada yang boleh menghalang-halangi tugas jurnalistiknya. Jadi untuk kali ini DM kena batunya. Menghadapi jurnalis berpengalaman yang tidak mudah digertak.

Kini, publik dibuat terhenyak oleh polah DM. Publik kaget karena DM yang selama ini sangat dijadikan contoh dan tauladan, bagi politisi di Purwakarta,  ternyata bisa berperilaku tidak berkelas saat bertemu wartawan.

DM yang Ketua DPD Golkar itu, dan Ketua Kahmi Jawa Barat itu tiba-tiba anti demokrasi. DM mendadak tidak punya rasa humor yang cerdas ketika berhadapan dengan wartawan, yang dalam tugasnya dilindungi oleh UU Pokok Pers.

Publik kemudian bertanya, siapa DM dalam forum itu? Kenapa dia begitu sangat berkuasanya, sampai berani mengusir wartawan dan membentak-bentaknya? Siapa DM dalam forum itu, apakah dia punya hak mengatur-atur acara, sementara dari panitia tidak ada pengumuman apapun soal larangan meliput.

Kalau panitia saat itu ada pemberitahuan larangan meliput, wartawan pasti mematuhinya. Karena kode etik jurnalistik memang menjamin itu, bahwa sumber yang keberatan untuk dikutip mesti dihargai.

Lalu siapa DM? Susah untuk menerka-nerka. Tapi melihat perilakunya yang aneh, publik kemudian menduga-duga ada upaya yang salah. Bisa diduga upaya menggeser agenda Dinas menjadi agenda politik. Perlu dicatat bahwa DM punya kepentingan suara, untuk dirinya sebagai Caleg DPR RI dari Golkar.

Kecurigaan itu wajar, ketika para reporter tahu bahwa pertemuan yang melibatkan semua kades se Purwakarta itu, tidak ada satupun dibolehkan membawa hand phone ke dalam ruangan. Ini ada apa?

Bisa jadi, karena diduga ingin memanfaatkan forum dinas itu untuk kepentingan politik, kemudian DM marah besar ketika tiba-tiba ada reporter yang meliputnya.

Pertanyaan publik tentang perilaku aneh DM, dan proses acara yang tidak lazim, mesti dijelaskan oleh Kepala Dinas PMD yang punya acara. Ini penting agar ada transparansi publik.

Kalau ini adalah diduga ada satu upaya pembelokan agenda dinas menjadi ajang politik DM, maka ada pelanggaran pidana pemilu yang serius. Karena, diduga ada fasilitas negara yang digunakan untuk kampanye politik.

Bawaslu mesti bertindak, untuk bersiap-siap memproses soal ini. Panggil Kepala Dinas PMD, panggil saksi-saksi, panggil DM untuk dimintai keterangan. Langkah ini penting agar demokrasi kita menjadi berkualitas.

Pers adalah pilar keempat demokrasi. ia hidup dijamin oleh UU dan diatur oleh Kode Etik Jurnalistik. Pers mesti bebas, saat menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya. Siapa yang mencoba menekan kebebasan pers, maka ia tergolong politisi anti demokrasi, di tengah era keterbukaan publik yang makin luas.

Tentu kita sangat menyayangkan dan prihatin dengan kejadian ini. Apalagi, ini dilakukan oleh orang yang selama ini dinilai publik sebagai figur politisi berkelas.

Kejadian ini membuktikan bahwa arogansi politik, diduga masih bercokol di pikiran dan tindakannya. Mungkin ini kebiasaan lama yang diduga masih kebawa-bawa sampai sekarang. DM lupa bahwa ia sekarang adalah orang biasa. Bukan siapa-siapa. Ia lupa bahwa yang menjadi Bupati itu isterinya, bukan dirinya. Sungguh kita sangat miris dibuatnya. Wallahu a’lam.

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *