Head LinePemdaTajuk

BUPATI ANNE, MANA “AKAL SEHAT” IBU?

RAJIN MOTONGI GAJI STAF, TAPI JOR-JORAN BIAYA PROGRAM TAJUG GEDE CILODONG

CARA berfikir Bupati kita, Anne Ratna Mustika sungguh aneh bin ajaib. Ketika berurusan dengan perut stafnya selalu menyatakan anggaran tidak cukup, perlu berhemat. Tapi ketika membangun hal-hal yang terkait dengan Tajug Gede Cilodong mendadak punya uang. Kamus tidak cukup anggaran mendadak menghilang. Intinya, untuk urusan Tajug Gede Cilodong, selalu saja ada uang dan Pemkab mendadak kaya raya.

Kita tentu sangat prihatin dengan cara berfikir yang kebalik-balik ini. Awal tahun para Pekerja harian lepas (PHL) dibuat hidup miskin secara struktural. Bupati memotong gaji mereka sampai 15%. Tahu apa alasannya? Tidak ada anggaran yang cukup.

Tunjangan ASN, sebagai inti penggerak birokrasi, yang bekerja seharian untuk memperlancar kerja-kerja Bupati, hak mereka digergaji sampai 60%. Juga atas nama anggaran lagi bokek.

PHL di Dinas pertanian, sampai ngemis-ngemis ke Bupati hanya untuk menuntut hak mereka, pun seperti menuai kentut saja. Angin surga dan bau lagi. Atas nama apa? Juga atas nama tidak ada anggaran.

Belum soal hak penghasilan tetap (Siltap) yang dibayar mundur-mundur terus. Ini menyangkut 40.000 perut keluarga para aparat desa, RT, RW? Mereka pada Januari sampai Februari 2019 belum dibayar. Alasannya sama saja, atas nama belum ada anggaran.

Tapi lihat bagaimana program-program di Tajug Gede Cilodong, kita tidak paham, semua mendadak dibiayai oleh Bupati. Publik kemudian bertanya, lebih prioritas mana antara bangun taman dengan memotong gaji staf di Pemkab. Mana akal sehatmu?

SUKA SOK KAYA

Kebijakan ini tentu menyakitkan buat masyarakat pada umumnya. Hak mereka, terkait dengan gaji, terkait urusan yang paling mendasar, perut mereka, dipotong-potong. Tapi untuk urusan taman? Masya Allah…. Begitu mudahnya biaya itu turun.

Ketika pemimpin tidak tahu mana yang lebih prioritas, maka hal itu akan sangat berbahaya. Akan muncul sikap laten kebencian rakyat kepada pemimpinnya. Sikap ini laiknya magma di dalam perut gunung api, yang bisa kapan saja meledak dan meluluhlantakkan semua bentuk kemapanan yang sudah ada.

Kita tahu bahwa dari aspek keuangan Pemkab sejak 2017 akhir mendapat warisan anggaran yang penyakitan. Laiknya penyakit kanker stadium empat. Ini karena penguasa sebelumnya salah kelola, besar pasak dari pada tiang.

Saat itu banyak program yang wah, tapi pendapatan tidak seberapa. Lebih baik kelihatan keren ketimbang mempertontonkan kemiskinan Pemkab. Akibat yang muncul adalah devisit anggaran ratusan miliar rupiah.

Saat itu, keuangan Pemkab lumpuh. Siltap di akhir 2017 empat bulan tidak terbayar, tunjangan ASN dipotong-potong, utang kepada kontraktor sekitar Rp 63 miliar, gaji guru ngaji tidak dibayar. Karena apa? Pemkab miskin tidak punya uang.

Efek dari itu sampai sekarang masih terasa. Bupati Anne pun harus rajin motongi hak stafnya. Hidup prihatin. Karena Pemkab memang lagi kere. Publik tahu itu.

Tapi, melihat perilaku bagaimana Bupati memfasilitasi semua urusan pembangunan di sekitar masjid Tajug Gede Cilodong, publik tentu terhenyak. Sejak kapan Pemkab punya uang dan sok mendadak kaya?

Wajar kalau publik bertanya, itu anggaran dari mana? Meresmikan taman dengan wah dan mengundang selebritas sekelas Sule tentu perlu biaya mahal? Lalu lebih prioritas mana antara urusan perut staf dengan membangun taman dan program pertanian lainnya?

Apakah biaya itu dari APBD? Kalau dari APBD itu APBD tahun berapa? Dan apakah itu sudah ada nomenklaturnya dalam APBD? Wallahu a’lam. Publik mesti tahu, dan Bupati wajib menjelaskan soal ini.

Cucuran air hujan jatuh tidak akan jauh dari atapnya. Rupanya, kebiasaan untuk lebih keren ‘kelihatan’ joz, ketimbang kelihatan kere apa adanya dan berperilaku bersahaja, akan menjadi gaya memimpin ibu Bupati. Ia mencontoh bagaimana suaminya dulu juga memimpin. Kumaha iyeu teh?

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close