BisnisHead LineTajuk

BUPATI ANNE ANDA PILIH MANA, MEMBUAT RSUD BAYU ASIH BANGKRUT ATAU MEMPERTAHANKAN HIBAH Rp 30,5 MILIAR?

AWAL bulan ini, publik dibuat terkaget-kaget, ketika tersiar kabar bahwa kondisi keuangan RSUD Bayu Asih sempoyongan, nyaris ambruk. Maka dari itu, manajemen Bayu Asih kepada Pikiran Rakyat mengambil opsi untuk pinjam bank, untuk menutup beban utang yang terus menumpuk.

Tekanan keuangan yang bertubi-tubi itu datang akibat Pemkab Purwakarta tidak kunjung melunasi utangnya ke Bayu Asih, efek dari program Jampis. Persoalan lain juga akibat utang BPJS yang juga tidak kunjung dibayar.

EFEK PEMKAB BELUM BAYAR UTANG KE RSUD BAYU ASIH, KINI RUMAH SAKIT MILIK PEMKAB INI TERANCAM BANGKRUT

Sementara pada saat yang sama, manajemen Bayu Asih harus membeli obat secara cash, juga kewajiban lain seperti tunjangan jasa dokter, perawat dan staf Bayu Asih. Ibarat pepatah besar pasak daripada tiang.

Langkah manajemen menutup beban cash flow dari utang ke bank juga langkah berbahaya. Karena mengelola RSUD pada hakekatnya adalah bisnis, bukan lembaga sosial. Maka dari itu, langkah menutup OCF yang negatif dengat cara utang, sama dengan mendekatkan RSUD ke bibir jurang. Ancaman kebangkrutan makin menganga.

Mari kita lihat penyakit utama, penyebab merosotnya keuangan Bayu Asih. Pertama adalah akibat piutang yang tidak kunjung tertagih. Piutang itu datang dari Pemkab Purwakarta sebesar Rp 24 miliar dan Piutang BPJS sebesar Rp 16 miliar. Ini persoalan lama sejak 2016 yang tidak kunjung sembuh.

Kedua, pembelian obat yang mesti kontan. Dan ketiga, beban program Jampis, yang mau tidak mau harus dijalankan. Ini program pencitraan Bupati yang tidak melihat performa keuangan dirinya. Atau memang Bupati tidak paham?

LALU APA SOLUSINYA?

Menyembuhkan penyakit keuangan RSUD dengan cara utang itu seperti gali lubang tutup lubang. Penyakit utamanya tidak bakal terselesaikan. Bahkan tanpa tahu bagaimana mengelola utang, kondisi RSUD bisa makin jatuh.

Menyehatkan bisnis pada prinsipnya ada tiga. Pertama, dengan cara meningkatkan pendapatan. Kedua, dengan cara menurunkan pengeluaran. Ketiga, merasionalisasi anggaran dan program.

Bupati mestinya mampu melunasi kewajiban utangnya ke RSUD Bayu Asih sebesar Rp 24 miliar, kalau Bupati mau dan paham.

Mari kita lihat postur anggaran APBD 2019. Pada tahun ini, Bupati mengeluarkan dana hibah Rp 30,5 miliar. Dari dana ini sebesar Rp 9 miliar diduga sudah dicairkan ke Tajug Gede Cilodong untuk membangun taman.

Sikap ini yang kita anggap janggal. Mestinya Bupati dengan sadar lebih memilih menyelamatkan Bayu Asih ketimbang membangun taman di Tajug Gede Cilodong. Pilihan yang lebih rasional dan terhormat.

Kedua, limpahkan sisa hibah itu khusus untuk membayar utang Jampis ke RSUD Bayu Asih. Toh selama ini, penggunaan dana hibah banyak yang menyimpang. Kita ingat skandal hibah Rp 1 miliar yang fiktif kepada Kejari pada 2018.

Menyuntik dana hibah sebesar Rp 30,5 miliar ke Bayu Asih tentu akan menjadi darah segar yang menyehatkan. Tapi kembali pilihan ada di Bupati, paham akan keadaan atau tetap mimpi di awang-awang?

Intinya, menyelesaikan keuangan Bayu Asih yang mau bangkrut itu bukan dengan cara utang. Tapi benar-benar di tangan Bupati. Berani tidak, Bupati Anne mengalihkan dana hibah itu untuk Bayu Asih. Ini agar dokter, perawat, karyawan dan orang miskin papa bisa tersenyum saat berurusan dengan Bayu Asih. Tapi akh …. Sudahlah jangan kelewat tinggi mimpinya …. Nanti sakit kalau jatuh. (PU).

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close