Head LineKomunitasPemda

ANGKA PERCERAIAN DI PURWAKARTA NAIK 24% PADA 2019, SEBANYAK 1.979 KASUS. TIAP HARI 5 ORANG BERCERAI.

SEBANYAK 75% KASUS PERCERAIAN DI PURWAKARAT AKIBAT TEKANAN EKONOMI

PURWAKARTA (eNPe.com) – Sejak Bupati Anne Ratna Mustika berkuasa, angka perceraian di Purwakarta pada 2019 naik 24% jika dibandingkan dengan angka perceraian pada 2018. Menurut satu pejabat di Pengadilan Agama (PA) Purwakarta, sebanyak 75% perceraian yang terjadi disebabkan oleh tekanan ekonomi.

Ahmad Saprudin M.H., Humas Pengadilan Agama Purwakarta menyatakan hal itu kepada eNPe.com kemarin (19/2) di kantornya. “Bahkan, kalau kita lihat trendnya dalam rentang lima tahun ke belakang, angka perceraian itu naik terus,” jelasnya.

“Angka perceraian dalam lima tahun ke belakang di Purwakarta terus naik. Kondisi ini menjadi tanggung jawab semua pihak, baik Pemkab maupun Depag Purwakarta.” (Humas PA Purwakarta Ahmad Saprudin MH).

Ahmad menambahkan, pada 2019, sisa perkara lama sebesar 292 kasus, gugatan baru yang masuk sebesar 1.913 perkara dan diputus cerai sebanyak 1.979 kasus. “Sementara berkas permohonan cerai, sisa 2018 sebanyak 16 kasus, permohonan yang masuk 624 kasus, diputus 613 kasus,” jelasnya.

Sementara pada 2018, menurut Ahmad, sisa perkara 2017 sebanyak 253 kasus, gugatan baru sebanyak 1.640 dan diputus sebesar 1.601. “Untuk permohonan cerai, sisa perkara 2017 sebanyak 15 kasus, permohonan baru sebanyak 523 kasus, diputus 522 kasus,” jelas Ahmad.

DATA PERCERAIAN DI PURWAKARTA PADA 2018 – 2019 (Sumber : Pengadilan Agama Purwakarta)

U R A I A N20182019
Sisa Perkara Gugatan253292
Gugatan Baru1.6401.913
Diputus Cerai1.6011.979
Sisa Permohonan Cerai1516
Permohonan Cerai Baru523624
Permohonan Diputus Cerai522613
Penyebab Cerai KDRT1020
Penyebab Cerai Poligami73
Penyebab Cerai Meninggalkan Keluarga193249
Penyebab Cerai Ekonomi220495
Penyebab Cerai Pertengkaran Terus-Menerus1.245635
Gugatan oleh Suami371390
Gugatan oleh Isteri1.2051.370

Naiknya angka perceraian ini, menurut Ahmad mesti diperbandingkan dengan peningkatan jumlah pernikahan. “Ini agar fair. Jadi ada unsur meningkatnya jumlah perkawinan dan kenaikan jumlah penduduk, berpengaruh terhadap naiknya angka perceraian,” jelasnya.

Hal inilah yang bisa menjelaskan, menurutnya,”Kenapa dalam rentang lima tahun terakhir angkanya naik terus. Ini diluar urusan tekanan ekonomi dan sebagainya,” jelas Ahmad.

MENJADI TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Ahmad menjelaskan, tingginya anga perceraian ini mestinya menjadi tanggung jawab bersama antara Pemkab Purwakarta dengan Departemen Agama Purwakarta. “Mereka bercerai karena banyak faktor. Bisa akibat pemahaman agamanya yang kacau, atau tekanan ekonomi,” jelasnya.

Maka dari itu, menurut Ahmad, Pemkab Purwakarta melalui Dinas Sosial dan Dinas Tenaga Kerja mesti bekerja optimal untuk bisa mengurangi angka pengangguran. “Sementara domain Depag akan bekerjasama dengan ulama dan asatidz melakukan pembinaan spiritual kepada masyarakat,” jelas Ahmad.

Hanya dengan cara itu, menurut Humas PA ini, angka perceraian bisa ditekan. “Jadi dalam keluarga mesti ada kesetimbangan antara kebutuhan dunia dengan pemahaman yang mendalam tentang agama. Ini kuncinya,” jelas Ahmad. (bay/PU)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close