Thursday, September 24, 2020
Beranda Bisnis ANDA PERLU TAHU : MENGELOLA BISNIS YANG SAKIT ITU NGERI-NGERI SEDAP

ANDA PERLU TAHU : MENGELOLA BISNIS YANG SAKIT ITU NGERI-NGERI SEDAP

Oleh : Widdy Apriandi

(Penulis adalah Co-Founder Saung Kopi Tajug dan Direktur Pengembangan Bisnis Hardtop Coffee & Supply)

SAYA ingat, suatu waktu, Mas Guntoro (senior sekaligus mentor bisnis saya) pernah bilang, “bisnis pada akhirnya hanya punya dua kemungkinan ; anda kaya-raya atau malah tambah miskin.” Kata-kata itu sangat membekas di batin saya. Siapa yang tidak ingin kaya-raya? Dan untuk itu, ada proses serta resiko yang mesti ditempuh. Diantaranya ; berbisnis.

Nawaitu saya berbisnis tidak lain untuk itu. Saya ingin kaya-raya. Sebab, dengan kekayaan, segala hal menjadi mudah. Terlepas, apakah itu untuk perkara dunia maupun akhirat sekalipun. Ya, uang memang bukan segalanya. Tapi, ingat, selagi di dunia, segala sesuatu perlu diselesaikan dengan uang.

Masalahnya, seperti dia bilang, bisnis selalu bermuka-dua. Ketika berjalan baik, aliran uang menggelontor. Malah, hingga bisa berakumulasi luar biasa. Tapi, ketika mengalami tren menurun, jelas akan ada masalah yang muncul. Skalanya bisa bervariasi ; dari mulai kecil hingga besar. Yaitu, sebagai contoh, dari sekedar sulit membeli bahan baku (ini masalah kecil) hingga tidak sanggup memenuhi angsuran bank (ini menurut saya masalah besar).

Sebagai orang yang menjalani kehidupan bisnis, beragam situasi buruk jelas pernah saya alami. Situasi penjualan lesu, misalnya. Hal itu, sih, menurut saya biasa saja. Selagi masih ada cash yang bisa diciptakan, saya kira masih oke-oke saja. Kecuali, betul-betul tidak ada cash yang tercipta dan itu berlaku untuk waktu yang lama. Nah, itu baru masalah serius.

Kemudian, masalah pelik lainnya adalah penyelesaian kewajiban-kewajiban keuangan. Para pemilik bisnis pasti tahu betul ‘sensasi’ puyeng-nya. Kalau ada duit, sih, tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika cash tipis atau amblas sama sekali. Sementara, kewajiban-kewajiban harus diselesaikan, seperti membayar gaji karyawan, angsuran bank dan beragam pengeluaran lainnya. Sakit kepala!

MENGELOLA BISNIS SAKIT ITU SULIT

Sepengalaman saya, mengelola bisnis ‘sakit’ itu sulit. “Sakit” yang saya maksud memiliki sejumlah indikator. Sekurang-kurangnya dua, yaitu (1) sudah pasti usaha dilanda sepi. Lalu, (2) secara keuangan pun jelas amburadul. Dengan kata lain, kondisi arus kas (cash flow) berantakan.

Kondisi demikian memang sulit. Tapi, bukan berarti tidak ada solusi sama sekali. Masalahnya, seringkali problematika bisnis tidak diurai secara rasional. Sehingga, yang muncul adalah respon-respon emosional ; marah, putus asa dan–bahkan–depresi.

Di tahun 2017, bisnis kedai kopi saya (Brand “Bandit Cafe Purwakarta”) crash bukan main. Cash flow hancur-hancuran. Hingga, di ujung masa kontrak tempat, saya hanya bisa mengumpulkan uang sekitar sepuluh juta saja. Sementara, harga sewa tempat berkisar empat puluh lima jutaan.

Saya ketemu situasi ruwet. Pertama, untuk terus kontrak, duit saya tidak cukup. Artinya, saya harus cari tempat lain atau bisnis tutup. Ke-dua, angsuran bank saya masih relatif panjang. Kalau tidak salah, saat itu tersisa setahun lagi dengan besaran empat juta rupiah per bulan. Jika usaha tutup, artinya saya tidak akan bisa memenuhi kewajiban bank.

Terus terang, saat itu saya panik luar biasa. Langit serasa runtuh. Logika pun semrawut. Saya tidak bisa berpikir jernih.

Tapi, beruntung, saya masih punya mentor dan orang-orang dekat yang membuat saya kuat. Mentor saya ‘menyemangati’ dengan kelakar sarkas bahwa hutangnya jauh lebih besar seratus kali lipat dari saya. Saya tercengang, karena dia masih bisa santai-santai saja. Sedangkan istri terus mengingatkan saya bahwa situasi ini biasa saja. Dia meyakinkan saya bahwa kesusahan ini bisa dilewati.

Dan ya, betul, situasi parah itu akhirnya lewat juga meskipun proses recovery-nya butuh waktu yang cukup lama. Saya pada akhirnya memutuskan untuk menutup bisnis kedai kopi saya. Tarik nafas panjang dulu. Untuk menyelesaikan masalah keuangan, saya fokus pada penyelesaian kewajiban sambil belajar irit maksimal.

Segala daya saya upayakan agar sisi penerimaan (cash in) saya signifikan untuk menutupi kewajiban bank. Sementara bisnis kedai kopi tutup, saya memberdayakan diri dengan aktifitas produksi lain. Saya mengerjakan proyek-proyek kepenulisan. Pun, saya membuat pelatihan-pelatihan kebaristaan sambil juga melayani pesanan peralatan, perlengkapan dan bahan baku kopi.

Di sisi lain, pengeluaran saya tahan-tahan semaksimal mungkin. Segala pengeluaran saya orientasikan untuk hal primer. Sedangkan hal sekunder apalagi tersier dibiarkan saja karena tidak penting-penting amat.

Upaya tersebut terbukti sangat efektif. Angsuran bank bisa saya selesaikan. Di hari terakhir saya bayar angsuran, saya rasakan kebahagiaan yang teramat-sangat. Lega luar bisa. Saya mendapatkana ‘kemerdekaan’ saya kembali dan sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak lagi mendanai urusan bisnis dari dana perbankan. Cukup!

Jadi, intinya, jika anda sedang berada pada situasi bisnis yang ‘sakit’, maka sebetulnya ya lumrah saja. Sekali lagi, bisnis tidak akan selalu berada pada jalur yang oke terus. Sehingga, ‘sakit’ adalah kondisi yang alamiah. Niscaya terjadi.

Masalahnya tinggal bagaimana menghadapi situasi ‘sakit’ tersebut. Yang harus di-ingat, pertama, jika owner tidak terus subsidi atau ‘bakar uang’ demi menghidupi bisnisnya, artinya bisnis sedang menuju baik. Minimal begitu–ketimbang boncos alias minus.

Ke-dua, analisis dong bagaimana cash flow bisnis anda. Jika masalahnya adalah anda tidak bisa mengelola cash flow dengan baik, ya berarti masalahnya ada di diri anda sendiri. Bisnis–salahsatunya–sangat erat kaitannya dengan urusan pengelolaan keuangan. Anda harus cerdas memilah mana duit untuk pribadi dan duit kekayaan perusahaan. Tak peduli anda adalah ownernya. Pemisahan kekayaan sangat penting.

Ketika anda miskelola mana uang untuk pribadi dan mana uang operasional, tinggal tunggu waktu ‘kutukan’-nya. Bisnis jelas akan berantakan. Anda memang perlu uang. Tapi, bisnis anda pun butuh uang agar bisa terus berjalan.

Pastikan teropong terus cash flow anda, ya. Jangan salahin orang lain, apalagi Tuhan. Wong salahnya di diri kita sendiri yang tidak awas.

Purwakarta, 17 Januari 2020

(Ditulis di Saung Kopi Tajug. Anda boleh main kesini. Jajan tapinya, ya?!)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

JEMBATAN DARURAT BODEMAN AKAN DIBANGUN DARI APBD PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2020

SUDAH DIAJUKAN ANGGARAN PERUBAHAN SEBESAR Rp 5 MILIAR PURWAKARTA (eNPe.com) - Jembatan Bodeman yang runtuh, menurut satu...

POLDA DAN KEJATI JABAR PERIKSA EMPAT PEJABAT DISTARKIM PURWAKARTA TERKAIT DUGAAN KORUPSI DI 11 PROYEK TERMASUK TAJUG GEDE CILODONG

KETUA KMP : "KAMI AKAN KAWAL SAMPAI TUNTAS." PURWAKARTA (eNPe.com) - Polda dan Kejati Jawa Barat...

TEST SWAB DI RS BAYU ASIH KINI BISA DALAM DUA JAM DIKETAHUI HASILNYA POSITIF CORONA ATAU TIDAK

SETELAH MENDAPAT BANTUAN MESIN PCR DARI GUGUS TUGAS PUSAT PURWAKARTA (eNPe.com) - Test swab -untuk tahu pasien...

SETELAH SEMPAT HABIS, PASIEN DENGAN STATUS PDP MUNCUL LAGI

TINGGAL DUA KECAMATAN YANG MASIH ZONA MERAH PURWAKARTA (eNTe.com) - Setelah sempat sembuh 100%, kini pasien dengan...