Head LineOpiniPolitik

AHY BAKAL JADI GELANDANGAN POLITIK?

Oleh : Iskandar Yusuf, Analis Politik dari Sabang Merauke Cyrcle

AHY begitu terjun ke dunia politik telah “memproklamirkan” betapa dia sedang “di klonning” oleh Ayahnya, SBY untuk tidak jujur pada pilihan hati sendiri.

MASA DEPAN POLITIK AHY DIPREDIKSI BAKAL REDUP

Mengapa Saya katakan Anda sedang di klonning?

AHY, sebenarnya ingin mengikuti karier militer gagah dari kakeknya, almarhum Letjen purnawirawan Sarwo Edi. Nama dan kharismatik kakek AHY bukan saja “ruh spirit” bagi Pasukan Elite Kopassus, tapi juga bagi rakyat Indonesia yang anti komunis.

Ini dapat dilihat, setamat SMP, AHY masuk sekolah unggulan SMU Nusantara, sekolah untuk “akses” ke Akademi Militer Nasional. Karier militer cukup bagus, dalam usia relatif muda pangkat Mayor bertengger di pundak AHY.

Namun, ambisi kekuasaan yang menguasai kedagingan ayahnya, ditumpukan kepada dirinya.

AHY ini politik, politik di Indonesia ini kejam, bisa menelanjangi aib kandidat politikus. Ingat, keluarga isteri Anda punya “aib” di republik ini.

Isteri Anda adalah anak dari “residivis” koruptor Aulia Pohan, ini akan jadi trade mark viral bila langkah politik Anda terlalu jauh melangkah.

Sikap yang dipertonton oleh ayah Anda, SBY, sebagai ketua umum partai Demokrat sudah dalam raport penilaian masyarakat Indonesia.

Ayah Anda sudah “menelanjangi” dirinya sebagai orang yang tidak konsisten, kalau tidak mau Saya katakan, “pengkhianat.”

Anda mungkin berdalih pada teori Aristoteles, seorang filsuf Yunani murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung, “..tidak ada kawan maupun lawan yang abadi untuk meraih kekuasaan politik..”

Saya bisa membenarkan teori Aristoteles, tapi teori tersebut tidak mengajarkan berpolitik itu harus mewujudkan diri jadi seorang munafik.

Makna teori Aristoteles itu, mengajarkan “seni” meraih kekuasaan politik itu bermanuver.

Simplenya, Anda bisa lihat sikap dan keputusan Yusril Ihza Mahendra, membawa gerbong PBB secara terbuka keluar dari barisan Koalisi Prabowo-Sandi. Tindakkan Yusril itu adalah “manuver” politik.

POLITIK TANPA MORAL

Berpolitik itu kita harus wajib belajar sekaligus memahami “etika berpolitik”

Seorang “diktator besar” sekelas Adolf Hitler pun menerapkan “etika berpolitik” ketubuh partai Nazi-nya, yaitu, “etika moral” dan “etika kesetiaan”

Bila anggota partai atau koalisinya melanggar kedua etika tersebut, Hitler dengan cerutu menyala di bibir, menembak kepala Si Pengkhianat tersebut

Saya melihat, Anda dan ayah Anda, SBY, telah melanggar kedua etika tersebut

Etika Moral yang telah Anda langgar, di mana Anda tidak diarahkan oleh ayah Anda, SBY, berhalal bi halal ke Prabowo yang didukung oleh partai Demokrat, partai “milik” ayah Anda

Etika Kesetiaan, sudah terlebih dahulu Anda langgar bersama ayah Anda. Disaat kubu Prabowo-Sandi berjuang ke MK, Anda dan Ayah Anda, SBY, tidak memberi sedikit pun respon support sebagai bagian dari partai koalisi

Ironinya, malah ayah Anda, SBY, “menyodorkan” diri Anda untuk menemui paslon capres 01 Jokowi, “seteru” dari kubu paslon capres 02 Prabowo

Inilah yang disebut, pengkhianat politik. Anda, ayah Anda, SBY, serta Ibas, bersyukurlah, karena Prabowo Subianto bukan Adolf Hitler

Kedatangan Anda dengan “cover” halal bi halal ke Jokowi dan Megawati, mudah ditebak, ini “misi” mencari simpati politik belaka. Saat ini tidak bisa ditampik Megawati “pegang peranan” kekuasaan politik di Indonesia.

Tapi, apakah Anda tidak memprediksi untuk lima tahun kedepan?Apakah Megawati akan kuat pada 2024? Untuk tahun 2024 politik Megawati “finish” karena faktor uzur, begitu pun ayah Anda.

Bila Megawati dan SBY “dimakan” uzur, maka partai PDIP runtuh, karena Puan Maharani tidak lebih hanya sekedar “penghias” etalase PDIP.

Termasuk partai Demokrat pasti ambruk, karena kondisi Anda tidak bedanya dengan Puan Maharani, penghias etalase partai Demokrat.

Anda tidak bisa lagi minta nafas ke rakyat, karena rakyat punya “raport” atas kelakuan ayah Anda. Saya tidak berharap, tapi Saya punya prediksi, pada 2024, Anda akan jadi “gelandangan politik” karena tidak memiliki partai.

Partai lain pun akan berpikir 77 kali merekrut Anda, sebab buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya

Belief or not, up to you, deh..(PU).

Tags

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *